NABI KHIDIR A.S. MEMILIHKAN NAMANYA
Pada tahun 1980-an, saya bersama seorang kenalan bernama Hj Yahya Hanafiah berkesempatan berjumpa dengan seorang kiyai dan wali Allah di Suryalaya yang terkenal dengan gelaran 'Macan Suryalaya''. ( di google sudah ramai ditulis tentang ''macan suryalaya'' )

Ketika itu , jamaah rombongan dari Singapura sudah pada tertidur semua kerana jam menunjukkan 11 malam, kami masuk ke Masjid Nurul Asror di mana Kiyai yang sudah berumur 125 tahun ketika itu bermalam. Banyak kisah yang di khabarkan kepada kami adalah mengenai karomah Abah Anom, seolah-olah beliau berpesan kepada kami yang muda bahwa pada zaman ini , inilah orangnya yang di tentukan Allah, yang berada di Indonesia.


Kisah yang paling menarik , tentang Abah Pakih ( nama betulnya Kiyai Haji Abu Bakar Faqih ) menceritakan : " Saya di amanatkan oleh Abah Sepuh ( Ayanda Abah Anom ) untuk menjaga Abah Anom sejak dari kecil. Sejak lahir Abah Anom berada  dirumah saya yang kebetulan terletak didepan rumah Abah Sepuh...selang beberapa hari saya menerima sebuah surat yang langsung dari Nabi Khidir AS yang berisi nama untuk seorang bayi.  Tertulis dalam surat itu nama "Sohibul Wafa'' atau 'Tajul Arifiin'' ,..di tanda tangani Nabi Al-khidr. Dengan segera saya langsung ke rumah Abah Sepuh menunjukkan surat tersebut dan Abah Sepuh berkata kalau begitu kita ambil dua-dua namanya yaitu 'Sohibul Wafa Tajul Arifiin'.-tamat kata-kata lebih kurang dari Almarhum Abah Pakih ".

Masya Allah, tak mungkin semudah itu Abah Pakih memperoleh surat dari Nabi Khidir jika ketika itu beliau bukan seorang wali Allah. Satu renungan buat kita agar bersyukur dengan anugerah ini.


DIA MELINDUNGI ORANG-ORANG YANG SALEH 
Iwan Darmawan
Ikhwan TQN - Jakarta

Firman ALLAH dalam surat AL-A'RAF (7):196

"DIA MELINDUNGI ORANG-ORANG YANG SALEH"

Saat manaqib beberapa bulan yang lalu, saya bertemu dengan seorang Ikhwan yang berasal dari Tasikmalaya usianya kurang lebih 70 tahun dan telah mengenal Abah Anom semenjak beliau masih muda. 

Manaqib di Suryalaya beberapa bulan yang lalu, saya bertemu Ir. Ayat Hidayat, Ketua Koperasi Hidmat - PP Suryalaya. Mengetahui bahwa  beliau mengenal Abah Anom sejak dahulu, sayapun bertanya pengalaman yang paling berkesan bersama Abah Anom. 

Beliau termenung sejenak, lalu berkata: "Suatu hari setelah shalat dhuhur berjamaah, Abah menawarkan makan siang di Madrasahnya (rumah Abah). Kesempatan ini tidak saya sia-siakan, kami makan hanya berdua".

Setelah makan, Abah mengajak saya berkeliling kebun (tanah) yang dimilikinya. Dalam perjalanan Abah selalu berdecak-decak karena ada sisa makanan yang terselip digiginya. Tidak jauh dari tempat kami berdiri, ada setumpuk dahan kering yang dikumpulkan penduduk untuk dijadikan kayu bakar, disandarkan disebuah pohon. Abah melihat dan berniat meengambil sedikit untuk dijadikan sebagai tusuk gigi. Ketika hendak mengambil kayu tersebut, tiba-tiba Abah Anom terperanjat dan langsung ber-istighfar berulang kali dan membatalkan niatnya.

Setelah mendengarkan beliau, saya merenung hikmah apa yang ada dibalik cerita itu. Baru beberapa bulan kemudian saya dapat mengambil hikmahnya, sebagai berikut:


Dalam kitab 'Risalah Qusyairiyah' dijelaskan:

Karamah yang paling besar yang dimiliki para wali, adalah selalu mendapat pertolongan ALLAH SWT untuk taat dan terjaga dari kemaksiatan dan pertentangan. Para Wali itu ma'shum  (terjaga dan terpelihara dari dosa) sebagaimana yang terjadi bagi para nabi. Walau mengambil hanya sedikit kayu yang nilainya tidak seberapa (mungkin tidak bernilai sama sekali), dihadapan ALLAH itu termasuk perbuatan dosa, digolongkan perbuatan mencuri. Bagi kita (murid) perbuatan tersebut dapat dikatakan hanya dosa kecil saja, tetapi bagi wali tidak ada istilah dosa kecil atau besar. Para wali melihat dosa itu adalah perbuatan menentang ALLAH SWT.

Rasulullah SAW bersabda: "Dosa yang paling besar di sisi ALLAH Ta'ala adalah dosa yang (dianggap) paling kecil oleh manusia. Sedangkan dosa yang paling kecil di sisi ALLAH Ta'ala adalah dosa yang (dianggap) paling besar oleh manusia".

Maksud hadist di atas adalah; apabila seseorang yang melakukan perbuatan dosa menganggap dosa yang dilakukannya itu sangat besar, maka ia pun merasa takut dan segera bertaubat, sehingga dosa itu diampuni dan dianggap kecil oleh Allah. Namun jika dosa itu dianggap kecil oleh yang melakukannya,sehingga ia terus-menerus mengulanginya, maka dosa itu menjadi besar di sisi ALLAH.   Abah Anom terhindar dari perbuatan dosa karena selalu dilindungi oleh ALLAH SWT, sebagaimana ayat dari surat Al-A'Raf tersebut di atas.

 
 
cermin kebersihan hati seorang Mursyid yang mukasyafah.

Ketika jama'ah TQN Suryalaya di suatu kampung mengadakan manaqiban, tiba-tiba masjid tempat dimana acara itu diselenggarakan dilempari batu oleh orang-orang yang tidak suka dengan acara tersebut. Karena sedih, beberapa orang jama'ah memutuskan untuk pergi ke Suryalaya dengan maksud hendak mengadukan prihal tersebut kepada Abah.

Sesampainya di Suryalaya mereka langsung menuju masjid dan berencana akan menemui Abah setelah taushiyah shubuh....dan yang membuat para jama'ah itu kaget adalah dalam taushiyah subuhnya Abah berkata begini:

"Alhamdulillah....semalam di suatu kampung, batu-batu pun ikut berdzikir dengan menhampiri masjid yang di dalamnya diadakan acara manaqib"

Padahal para jama'ah belum menceritakan prihal mereka.
Demikianlah cermin kebersihan hati seorang Mursyid yang mukasyafah.
 




Pangersa Abah Anom : Kiai Pasak Bumi yang Zuhud
Sesepuh Ponpes Suryalaya Abah Anom di Ponpes Suralaya, Tasikmalaya, Jawa Barat Pembimbing Thoriqot Qadiriyah Naqsabandiyah di Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya. Memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Menerapkan “Metode Inabah” untuk menyembuhkan para korban narkoba. Tidak pernah mau bertamu kepada para pejabat.

Seorang pemuda dengan ransel di pundaknya memasuki sebuah rumah bercat kuning yang di bagian atas pintunya tertulis kaligrafi : Azzamifthaful Thariqat Qadiriyah wannaqsabandiyah. Rumah yang disebut madrasah dan bersebelahan dengan Masjid Nurul Ashrar itu, adalah kediaman Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifi n, pemimpin Pondok Pesantren Suryalaya.

Pemuda itu bernama Badhrowi, yang sedang mondok di pesantren tersebut. Ia hendak menemui Ahmad Shohibulwafa, yang termashyur dipanggil Abah Anom. Saat itu masih sekitar pukul enam pagi. Rumah Abah Anom sudah ramai dikunjungi tamu untuk berbagai keperluan. 

Sebagaimana biasa, jika pulang kampung, Badhrowi selalu pamit pada Abah Anom dan meminta doa dengan media sebotol air putih agar selamat sampai tujuan. Momen di penghujung bulan Juni 1997 itu, menjadi salah satu kejadian yang berkesan bagi Badhrowi. Ia yang hendak menuju tanah kelahirannya, Palembang, di tengah perjalanan, persisnya di daerah Pelabuhan Merak, ia dicegat oleh beberapa orang pemuda yang berprofesi sebagai calo. Mereka mencoba memeras dan merampas tas satusatunya milik Badhrowi.

Pada saat itulah, Badhrowi meminum air putih yang sudah didoai Abah Anom. Tiba-tiba, calo-calo pelabuhan yang tak ubahnya preman itu, berubah sikap, menjadi melunak. Mereka segera mencarikan jalan buat Badhrowi agar menaiki kapal penyeberangan Merak-Bakauheni.

Kejadian unik yang dialami Badhrowi itu, merupakan satu dari sekian banyak kisah tentang karomah Abah Anom. Toh, sebagai tokoh agama, Abah Anom lebih dikenal berkat peranan aktifnya di bidang sosial kemasyarakatan. Semua berawal dari pemahamannya tentang makna zuhud. Namun, ada pendapat bahwa zuhud itu berarti meninggalkan urusan dunia, yang berdampak pada kemunduran umat Islam.

Sedangkan bagi Abah Anom, “Zuhud adalah qasr al-’amal. Artinya, pendek angan-angan, tidak banyak mengkhayal, bersikap realistis.”Abah Anom (tengah) di pondok pesantren Suryalaya. Periode tahun 50-an, adalah masa yang menentukan bagi Abah Anom. Waktu itu, ia secara resmi menjadi mursyid (pembimbing) Thoriqot Qadiriyah Naqsabandiyah di pesantren tasawuf tersebut. Di saat yang sama, Tanah Air tengah berada dalam kondisi rawan dengan berbagai kekerasan bersenjata antarkelompok, terutama antara DI/TII melawan TNI. Melihat itu, Abah tak tinggal diam, ia membantu para prajurit.

Sebagai pribadi yang memiliki kepedulian sosial, Abah Anom pun terlibat langsung dalam pembangunan irigasi, serta membangun kincir angin untuk pembangkit tenaga listrik. Untuk mengantisipasi krisis pangan, ia membuat semacam program swasembada beras di kalangan masyarakat Jawa Barat. Kegiatan itu kemudian menggugah Menteri Kesejahteraan Rakyat Suprayogi dan Jenderal A. H. Nasution untuk meninjau aktivitas di Pondok Pesantren Suryalaya.

Di samping itu, Abah Anom juga mebuat program “rehabilitasi rohani” bagi para mantan anggota PKI. Kontribusinya itu berhasil mendatangkan berbagai penghargaan dari Jawatan Rohani Islam Kodam VI Siliwangi, Gubernur Jawa Barat dan instansi lainnya.

Sejak itu, Abah Anom mengembangkan “metode inabah” sebagai penyembuhan rohani. Tidak hanya sekadar nama untuk pesantrennya, inabah adalah landasan teoritis untuk membebaskan pasien dari gangguan kejiwaan karena ketergantungan terhadap narkoba. Orang yang dirawat dengan metode inabah diperlakukan seperti orang yang dianggap memiliki masalah kejiwaan. Dan, terapi yang digunakan terhadap mereka adalah melalui zikir.

Menurut Badhrowi, proses yang harus dilewati terlebih dahulu dalam inabah adalah mandi yang dilakukan di malam hari. Biasanya, itu dilakukan di atas pukul 12 malam. “Di kemudian hari, oleh banyak peneliti, metode tersebut dianalisis dan ternyata dapat dibenarkan secara ilmiah,” ujar Badhrowi. Air di malam hari, ternyata mengandung molekul-molekul yang baik untuk kesehatan.

Beberapa penghargaan akhirnya diberikan kepada Abah Anom, khususnya terkait metode penyembuhan terhadap pecandu narkoba tersebut. Berdasarkan hasil penelitian Dr. Juhaya S. Praja, 1981-1989, sebanyak 93,15% dari 5.845 anak binaan yang mengikuti program inabah, bisa kembali menjadi normal. Abah Anom mengatakan, makanan tidak halal adalah salah satu penyebab penyakit. Pada 1980, diadakan lokakarya di pesantren tersebut yang dihadiri oleh delapan departemen sekaligus, yang merupakan kerjasama lintas sektoral yang dibuat khusus untuk menanggulangi kenakalan remaja.

Akhirnya, Januari 2009, Abah Anom menerima Piagam Distinguished Service Awards dari International Federation of Non-Government Organitations (IFNGO), Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sebuah penghargaan tertinggi yang diberikan lembaga internasional itu bagi pengabdian seseorang dalam pemulihan korban narkoba.

Piagam itu diserahkan di Australia oleh Chairman IFNGO, Dr. K.C. Lam kepada perwakilan Pesantren Suryalaya di Jakarta, Ir. Ucu Suparta. Abah Anom dinilai telah menyelamatkan nyawa serta masa depan anak-anak bangsa. Penghargaan itu terlihat dipajang di dinding ruangan tamu rumah Abah Anom.  Abah Anom adalah pengagum Syekh Abdul Qadir Jailani, yang antara lain memberikan tuntunan: “Dudukkanlah dirimu bersama kehidupan duniawi, sedangkan kalbumu bersama kehidupan akhirat, dan rasamu bersama Rabbmu.”

Abah Anom adalah ulama kharismatik yang kepemimpinan dan pengabdiannya di tengah masyarakat, membuat para tokoh di Tanah Air menaruh hormat kepadanya. Para presiden atau wakil presiden RI bahkan pernah bertandang ke pesantrennya. Diawali dengan kunjungan mantan Presiden Soeharto pada 1995. Kedatangan Presiden Soeharto saat itu didamping Moerdiono yang ketika itu menjabat Menteri Sekretaris Negara. Menjelang pemilihan presiden 2004, giliran Megawati Soekarno Putri yang datang, didampingi tokoh Partai Golkar Akbar Tandjung.

Lima tahun berselang, Jusuf Kalla yang saat itu hendak menyalonkan diri sebagai Presiden pada 2009 juga mengunjungi Abah Anom. Di tahun yang sama, Presiden SBY pun tak mau ketinggalan. Sebaliknya, sampai akhir hayatnya Abah Anom tidak pernah mengunjungi siapa pun pejabat di negeri ini. Kecenderungan itu membuat Abah Anom juga dijuluki “Kiai Pasak Bumi.” Artinya, Abah Anom hanya akan selalu menerima tamu di tempatnya ketimbang menjadi tamu di tempat lain.

Sesepuh Ponpes Suralaya Abah Anom di Ponpes Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat (26/6). Abah Anom meninggal Senin 5 September 2011 sekitar pukul 11.50 WIB atau bertepatan dengan hari Milad Pesantren Suryalaya 5 September 1905. Sebelumnya, almarhum tidak terbaring sakit atau dirawat di rumah sakit.


Bahkan, ia sempat menerima tamu di kediamannya. Usai menerima tamu, tiba-tiba ia merasakan sakit. Abah Anom memang diketahui mengidap penyakit jantung. Jenazah Abah Anom baru dikebumikan pada 6 September 2011 di sebuah bangunan dekat dengan makam ayahnya, Syekh H Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad. Makam keluarga besar Suryalaya terletak di Puncak Suryalaya atau sekitar kompleks pesantren.



Gandrung Ilmu Tasawuf

Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin adalah nama asli Abah Anom. Lahir 1 Januari 1915 di Suryalaya, Tasikmalaya. Beliau anak kelima dari Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad atau Abah Sepuh, pendiri Pesantren Suryalaya. Sebuah pesantren tasawuf yang khusus mengajarkan Thariqat Qadiriyyah Naqsabandiyah (TQN).

Abah Anom memasuki bangku sekolah dasar (Vervooleg school) di Ciamis, pada usia 8 tahun. Lima tahun kemudian, ia melanjutkan ke madrasah tsanawiyah di kota yang sama. Usai tsanawiyah, barulah ia belajar ilmu agama Islam secara lebih khusus di berbagai pesantren.

Atas perintah ayahnya, ia melaksanakan riyadoh dan ziarah ke makam para wali sambil menimba ilmu di pesantren Kaliwungu-Kendal, Jawa Tengah, serta di Bangkalan Madura bersama kakak kandungnya, H.A. Dahlan, dan wakil Abah Sepuh KH Pakih dari Talaga, Majalengka. Abah Anom mengakhiri masa lajangnya pada 1938 di usia 23 tahun. Setelah menikah, ia berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Di Tanah Suci, ia juga memperdalam ilmu tasawuf dan tarekat selama tujuh bulan kepada Syekh H. Romli asal Garut, wakil ayahnya yang bermukim di Jabal Gubeys, Mekkah.



BAYANGAN WAJAH ABAH ANOM MEMBUAT SEORANG PEMUDA BERTAUBAT DARI HOBI MELACUR.


Cerita ini diambil dari ceramahnya KH.M.Abdul Gaous Saefulloh Al-Maslul atau Ajengan Gaos salah satu wakil Talqin Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyyah Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, Jawa Barat Indonesia.

Diceritakan ada seorang pemuda yang hobinya melacur, pemuda tersebut berniat untuk berhenti dari pebuatannya yang tercela. Sudah berbagai cara dilakukan untuk menghentikannya itu tidak membuat minat lacurnya berhenti. Padahal, pelaksanaan amalan ibadah yang “super ketat” atas petunjuk dari para kiai yang pernah dikunjungi dari berbagai daerahpun belum berhasil. Jadi, Sudah tidak asing lagi baginya riyadloh (latihan) seperti puasa, dzikir, sholat baik yang sifatnya wajib maupun sunat dan amalan lainnya.


Dalam keadaan kondisi jiwa yang begitu kritis, datanglah pemuda itu ke Pondok Pesantren Suryalaya untuk menemui seorang Waliullah yaitu Abah Anom dan menceritakan maksud kedatangannya. Abah Anom berkata : “Tidak apa-apa, asal jangan dilakukan didepan Abah”. Setelah itu pemuda yang hobi “jajan” perempuan ditalqin dzikir TQN untuk diamalkan.


Seperti biasa pemuda tersebut datang ke hotel yang telah dipesan untuk melaksanakan hasrat nafsunya “meniduri” wanita pelacur. Setelah siap-siap semuanya, terbesit dalam jiwanya akan bayangan wajah Abah Anom “Asal jangan dihadapan Abah!”, pemuda itu terkejut dan gelisah, dengan segera meninggalkan hotel. Gagallah keinginan nafsunya.

Dihari yang lain, pemuda itu datang lagi ke hotel untuk melaksanakan hasrat nafsunya yang tidak terbendung. Namun, disaat detik-detik akan melaksanakan maksiatnya muncul wajah Abah Anom “Tidak apa-apa, asal jangan dihadapan Abah”. Pemuda itu kembali mengurungkan niatnya dan kembali pulang.


Kejadian itu terus terulang selalu melihat bayangan wajah Abah Anom disaat-saat akan melakukan maksiat dengan pelacur. Akhirnya, dengan kejadian itu pemuda tersebut menghentikan dari hobinya melacur untuk selamanya dan menjadi pengamal Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyyah.


Sesungguhnya kejadian itu suatu anugrah dari Allah untuk hamba yang dicintai dengan perantara Mursyid sebagai pilihan-Nya. Subhanallah..


Bayangan wajah Mursyid itu adalah sebagai burhana robbihi (cahaya / tanda dari Allah) yang membawa berkah terhadap pemuda tersebut.


Kita teringat akan kisah salah satu utusan Allah yaitu Nabi Yusuf as. yang ditolong Allah ketika akan terjadi maksiat dengan Siti Zulaikha. Dalam al-Qur’an Surat Yusuf ayat 24: “Sesungguhnya wanita itu telah bemaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf-pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu (Zulaikha) andaikata tidak melihat burhana robbihi yaitu tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS: Yusuf 24)


Dalam ayat ini terdapat perkataan Allah “Burhana Rabbihi”. Menurut perkataan Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir, juz II / 474 : “Adapun maksud “Burhaana Rabbihi” yang terlihat oleh Yusuf, maka terdapat beberapa pendapat. Menurut sahabat Abdullah bin Abbas, Said, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Muhamad bin Sirin, Hasan, Qatadah, Ibnu Sholeh, Dlohah, Muhammad bin Ishaq dan lain-lain yakni Yusuf melihat bayangan ayahnya (Ya’kub), rupanya, bentuknya seakan-akan ayahnya marah-marah. Menurut sebagian riwayat memukul dada Yusuf. Al-‘Aufi berpendapat dari Ibnu Abbas, maksud perkataan itu ialah Yusuf teringat kepada bayangan wajah suami Zulaikha yaitu raja Qithfir yang seolah-olah ada dirumah dan mengetahui apa yang akan diperbuat Yusuf. Demikian juga Muhammad bin Ishaq berpendapat yang sama.” (Tafsir Ibnu Katsir, II / 474) Subhanallah…


sumber : http://kedudukanabahanom.blogspot.com/2010/10/karomah-abah-anom-2.html




Mengetahui semua hati muridnya
oleh : H. Thohir Abdul Qohir

Tersebutlah seorang kiayi bernama KH.Tohir yang sedang menimba ilmu di salah satu pesantren di kotanya. Konon Sang Guru yang mengajarkan ilmu di pesantrennya tersebut melarang Kiayi Tohir untuk tidak menemui seorang kiayi besar yang tinggal di Suryalaya bernama Abah Anom, apalagi berguru kepadanya.

Namun, setelah melalui penelusuran dan pembelajaran ilmu tassawuf yang diajarkan di Pesantren Suryalaya, akhirnya kiayi Tohir meminta kepada Abah Anom untuk dibaiayat atau ditalqin dzikir (di ajarkan dzikir Thoriqoh). Namun, tentu saja dalam benak kiayi Tohir kunjungannya ke Abah Anom yang tanpa sepengatahuan gurunya itu akan membuat murka di pesantren dikotanya. Apalagi, setelah di talqin dzikir (pengajaran dzikir thoriqat) ada suatu amanat dari Abah Anom yakni ucapan salam yang harus disampaikan kepada guru dipesantrennya.


Ketika kiayi Tohir sedang duduk menunggu sholat berjamaah di Mesjid Nurur Asror di Kompleks Pesantren Suryalaya sebelum ia kembali bertolak ke kampung halamannya, pikirannya terus berkecamuk tidak bisa tenang.


Ketika dalam benaknya terbersit bagaimana wajah murka gurunya yang sedang memarahinya habis-habisan karena ketidak taatannya, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dengan sorban dan berkata: “Tong sok goreng sangka kabatur, komo ka guru soranganmah, boa teuing teu kitu! dalam bahasa Indonesia : “jangan selalu berburuk sangka terhadap orang lain, apalagi terhadap guru sendiri, belum tentu seperti itu “. Kiyai Thohir begitu kaget ternyata yang menepuk pundak dan membaca pikirannya itu adalah guru ruhaninya yang baru, yaitu Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin ra (Abah Anom).


Dari kejadian itu Kiai Thohir mendapatkan pelajaran yang berharga bahwa seorang guru ruhani Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah bisa mengetahui hati murid-muridnya dimanapun mereka berada. Mursyid akan terus mengawasi dan membimbing hati murid-muridnya agar hati selalu menuju Allah


Sepulang dari Pesantren Suryalaya dan kembali ke Pesantren dikampungnya, Kiai Thohir menyampaikan amanat salam dari Mursyid Kammil Mukammil Syekh ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin ra kepada gurunya. Dan ternyata, diluar dugaan Kiayinya yang dipesantren itu malah memuji Abah Anom bahkan Kiayi Thohir sebagai salah satu murid kesayangannya itu dianjurkan untuk menjalankan ajaran yang di bawa oleh Abah Anom sebagai pewaris para Nabi.


Selanjutnya, Kiayi Thohir mengabdikan diri sepenuhnya kepada Abah Anom dan mengamalkan ajaran yang telah diajarkannya. Akhirnya Kiai Thohir dipercaya menjadi salah satu wakil Talqin, yaitu orang yang di izinkan untuk mengajarkan atau mengijazahkan dzikir Thoriqoh kepada orang yang membutuhkannya.





DAGING BERUBAH JADI MANUSIA
Olwh : KH.M.Abdul Gaous Saefulloh Al-Maslul (Ajengan Gaos)

Cerita ini diambil dari ceramahnya KH.M.Abdul Gaous Saefulloh Al-Maslul atau Ajengan Gaos salah satu wakil Talqin Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyyah Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, Jawa Barat Indonesia.


KH. Maksum memiliki seorang istri yang sedang mengandung. Menurut fonis dokter, istri kiayi tersebut bukanlah kehamilan normal yang biasanya terjadi pada seorang wanita. Namun istri KH.Maksum di vonis menderita kanker dan harus segera dioperasi.


Sang Kiayi akhirnya datang ke Suryalaya ingin bertemu Pangersa Abah Anom untuk meminta doa beliau agar istrinya diberi kelancaran saat operasinya nanti. Ketika kiayi Maksum mengutarakan maksudnya tersebut, Abah hanya berkata: “Heug, sing jadi jelema”, dalam bahasa Indonesia: iya, jadi manusia, maksudnya adalah semoga kandungan istri kiayi Maksum menjadi manusia dengan izin Allah.


Dan ternyata, baru saja istri kiayi Maksum satu langkah keluar dari rumah Pangersa Abah, dia merasakan gerakan-gerakan dalam rahimnya itu, subhanallah. Kontan saja istri kiayi Maksum kaget, dan langsung memeriksakan dirinya ke Dokter. Lalu apa kata Dokter? Subhanallah, Dokter pun sama terkejutnya dengan pasangan suami istri Kiayi Maksum tersebut.


Allahu Akbar, kun fayakun, dengan izin-Nya melalui doa Kekasih-Nya, daging jadi yang asalnya akan diangkat tersebut, ternyata berubah menjadi sesosok manusia kecil yang menggemaskan berjenis kelamin laki-laki. Ya, ternyata setelah dioperasi daging jadi itu berubah menjadi seorang bayi, yang diberi nama Sufi Firdaus.


Idos panggilan anak ini, hingga saat ini masih hidup dan mengabdikan dirinya untuk menjadi murid Syeikh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin qs. (Abah Anom).



Menyadarkan kyai sakti

Diceritakan Bapak Etje Juardi, ada Ulama yang dikenal sakti namanya Kyai Jured Pemalang.


Suatu hari Kiai tersebut memiliki rencana untuk menguji karomah Abah Anom dengan kesaktian yang dimilikinya.


Kiai tersebut datang ke Pondok Pesantren Suryalaya dengan satu bis yang membawa 70 santrinya. Semua santri disebar disekitar Pesantren Suryalaya, setelah Kiai itu masuk ke halaman Abah Anom, tidak disangka Abah Anom sudah berada didepan madrasah dan menyuruh Kiai untuk masuk ke madrasah Abah Anom bersama 70 santrinya yang telah disebar. Kiai tersebut merasa kaget akan kasyaf (penglihatan batin)nya Mursyid TQN. Abah Anom meminta Kiai tersebut dan para santrinya untuk makan dahulu yang telah Beliau sediakan di madrasah.


Di dalam madrasah Kiai memuji Abah Anom tentang pesantren Beliau yang sangat luas nan indah, tetapi dibumbui kritik secara halus tentang kekurangan pesantrenya yaitu tidak adanya burung cendrawasih, burung yang terkenal akan bulunya yang indah. Beliau hanya tersenyum dan menimpalinya dengan jawaban yang singkat : “Tentu saja Kiai”. Suatu di luar jangkauan akal setelah jawaban itu burung cendrawasih yang berbulu indah melayang-layang di dalam madrasah yang sesekali hinggap. Kejadian itu membuat terpesonanya akan karomah yang dimiliki Beliau, Kiai itu diam seribu bahasa.


Keajaiban lagi, ketika makan dengan para santrinya yang 70 pun nasi yang di sediakan dalam bakul kecil itu tidak pernah habis.


Namun, Kiai ini masih penasaran dan tidak mau kalah begitu saja, setelah makan Kiai tersebut meminta kepada Beliau untuk mengangkat kopeah/peci yang telah “diisi“, yang sebelumnya dicoba oleh para santrinya tidak terangkat sedikitpun. Subhanallah .. hanya dengan tepukan tangan Abah Anom ke lantai kopeah itu melayang-layang.


Selanjutnya Kiai tersebut mengeluarkan batu yang telah disediakan sebelumnya, dan batu itu dipukul dengan “kekuatan” tangannya sendiri sehingga terbelah menjadi dua, sedangkan belahannya diberikan kepada Abah Anom. Kiai itu meminta kepada Abah Anom untuk memukulnya sebagaimana yang telah dicontohkannya.


Abah Anom mengatakan kepada kiai itu : “Abah tidak bisa apa-apa, baiklah” selanjutnya batu itu diusap oleh tangan Abah dan batu itu menjadi air ,subhanallah…


Kiai menguji lagi karomah Abah Anom dengan kelapa yang telah dibawa santri dari daerahnya. Kiai tersebut meminta yang aneh-aneh kepada Abah Anom agar isi dalam kelapa tersebut ada ikan yang memiliki sifat dan bentuk tertentu.


Dengan tawadlunya Abah Anom menjawab: “Masya Allah, kenapa permintaan kiai ke Abah berlebihan?, Abah tidak bisa apa-apa . Selanjutnya Abah Anom berkata : “ Baiklah kalau begitu, kita memohon kepada Allah. Mudah-mudahan Allah mengabulkan kita”. Setelah berdoa Beliau menyuruh kelapa itu untuk dibelah dua, dan dengan izin Allah didalam kelapa itu ada ikan yang sesuai dengan permintaan sang kiai. Subhanalllah…


Selanjutnya, entah darimana datangnya di tangan Abah Anom sudah ada ketepel, dan ketepel itu diarahkan atau ditembakan kelangit-langit madrasah, sungguh diluar jangkauan akal, muncul dari langit-langit burung putih yang jatuh dihadapan Kiai dan Beliau


Setelah kejadian itu, Kiai menangis dipangkuan Abah Anom Akhirnya Kiai memohon kepada Abah Anom untuk diangkat menjadi muridnya.


Kiai itu ditalqin dzikir TQN Setelah ditalqin Kiai menangis dipangkuan Abah Anom sampai tertidur. Anehnya, Bangun dari tidur sudah berada dimesjid. Subhanallah….




Menolong muridnya (akhwat) yang akan diperkosa dari jarak jauh.

Abdul telah tiada. Bunga di atas kuburan Abdul yang terletak di area kuburan blok Nyongklang Selajambe Kab. Kuningan tampak masih segar sekalipun sudah tiga hari terpanggang panas terik matahari. Begitu pula gundukan tanah merah tampak terlihat masih basah padahal kuburan sekelilingnya sudah kering bahkan terlihat retak-retak akibat kemarau berkepanjangan.


Sepintas, tak ada yang istimewa pada kuburan tersebut. Sama saja seperti kuburan yang lainnya. Namun sesuatu yang beda akan terasa disana. Wangi bunga akan tercium manakala orang melewati kuburan tersebut. Emangnya, siapa sich, yang “tertidur” di dalam sana? Inilah kisahnya….

Adalah Abdul, seorang laki-laki yang 3/4 usianya dihabiskan dalam lembah kemaksiatan. Di kota Metropolitan, Abdul menjelma menjadi bajingan yang Super Haram Jadah. Ia adalah jagoan yang tak pernah kenal rasa takut. Bagi sesama penjahat, Abdul adalah momok yang menakutkan. Bagi polisi lelaki yang sekujur tubuhnya dipenuhi tato wanita telanjang itu merupakan sosok penjahat yang super licin yang sulit ditangkap karena kepandaiannya menggunakan jampi-jampi sehingga mampu berkelit dari kejaran aparat. Kapanpun dan dimanapun, perbuatan maksiat tak pernah ia lewatkan.


Hingga suatu malam di bulan November 2005….. Niat jahatnya muncul kembali ketika melihat seorang penumpang wanita sendirian di mobil omprengan daerah Plumpang, Jakarta Utara. Bersama dua orang temannya, ditodongkannya pisau ke arah sopir dan kernet yang tidak berdaya menghadapi ancaman tersebut. Keduanya lalu diikat lalu Abdul CS. membawa kendaraan tersebut ke salah satu tempat di Bogor yang sudah mereka persiapkan sebelumnnya.


Sesampainya di tempat, Abdul CS. bermaksud untuk memperkosa wanita cantik tersebut. Dengan cara paksaan, wanita itu -sebut saja Sinta- diminta untuk melayani nafsu binatangnya. Namun Sinta berupaya sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari bahaya sambil berteriak : “Abah, Abah, Abah, tolong saya!”. Subhanalloh, atas kehendak-Nya, disaat Abdul akan melampiaskan nafsu kebinatangannya, tiba-tiba saja “burung” miliknya mendadak terkulai lemas dan ia merasakan kesakitan yang luar biasa. Begitu juga kedua temannya yang akan memperkosa Sinta mengalami hal serupa. Dalam keadaan seperti itu, Sinta langsung melarikan diri………..


Setelah kejadian tersebut, Abdul CS mengalami nasib naas. Kemaluannya membengkak dan tiga bulan kemudian, dua orang temannya mati mengenaskan akibat “burung”nya MEMBESAR. Untunglah, Abdul cepat sadar. Ia tahu, bahwa peristiwa tersebut merupakan hukuman dari Allah atas dosa-dosa mereka yang telah diperbuat. Lalu, ia menemuia salah seorang temannya yang sudah terlebih dahulu insyaf dan bertaubat.


Setelah diutarakan maksud dan kedatangannya, teman Abdul tersebut membawanya ke salah satu Majlis Dzikir dan kemudian bertaubat. Melalui Kiayi yang menuntunnya, iapun tahu bahwa taubat tidak berarti harus menghilangkan seluruh tato yang ada ditubuhnya. Dengan semangat yang kuat dan tekad yang membaja, Abdulpun mendapatkan Talqin Dzikir dan mengamalkan semua amaliahnya seperti Khotaman meskipun dia hafalkan dari latinnya.


Teman-teman seprofesi dulu di Jakarta banyak yang ia temui sehingga dia memutuskan untuk hijrah dari Jakarta ke kampung halamannya, takut jika niat jahatnya kembali muncul. Di kampung halamannya, masyarakat tidak begitu saja bisa langsung menerimanya, malah menaruh rasa curiga bahkan tak jarang kata-kata pedas sering dilontarkan kepadanya. Berbekal TANBIH dan dzikrullah, ia tetap tersenyum dan berbaik budi. Sehingga akhirnya masyarakatpun dapat menerima, bahwa Abdul telah kembali ke jalan yang lurus.


Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dia menjadi buruh tani dan pekerjaan serabutan lainnya hanya untuk sesuap nasi sehingga tetap bisa melaksanakan amaliah dzikrullah seperti yang pernah didapatkannya di Jakarta. Hingga akhirnya, pada hari Jum’at di tahun 2006 selepas Subuh, ia dipanggil kembali oleh Allah dalam posisi Tawajuh.


sumber : kedudukanabahanom.blogspot.com/2010/10/karomah-abah-anom-5.html



  

 Mimpi Nabi Isa A.S , akhirnya jadi murid Abah

Kira-kira pada awal tahun 2000, Masjid Khadijah di Singapura di datangi Ikhwan dari Jakarta dan beliau di beri peluang untuk menceritakan asal usulnya dan bagaimana akhirnya jadi ikhwan atau murid Abah. Nama dan identitas beliau tidak dapat kami umumkan disini. Beliau berkata...lebih kurang maknanya sbb:

Saya berasal dari keluarga India yang berpegang teguh pada ajaran agama Hindu yang ada di Jakarta. Saya mempunyai nasib yang jauh lebih baik sebab tiap kali para sama ( Kalau dalam agama Islam dengan sholat  'istikharah') untuk memilih dan melantik tukang untuk membuat patung ( tuhan ) , nama saya yang selalu keluar. Sehingga banyak kuil-kuil di Jakarta yang membuat Patung (Tuhan) adalah saya. Saya lah orangnya yang lebih tahu bagaimana bentuk dan coraknya , bagaimana jarinya yang menggenggam , yang terbuka, giginya yang mana satu di taring kan dan yang mana satu di ratakan.........semuanya ada makna yang dalam , mengikut kepercayaan orang Hindu.

Agama hindu bagi saya tidak pernah menjadi keraguan dalam hidup saya. Seiring dengan waktu yang berjalan dan ayah saya telah berpulang kepangkuan sang Ilahi, maka sayalah sebagai anak sulung yang pertama kali meletakkan api untuk membakar jasad ayahanda kami. Selepas upacara pembakaran, saya mula meragui agama Hindu, jiwa saya mula tertanya-tanya sehingga kebingungan menyelimuti hati saya. Pada saat itu saya memohon dengan Tuhan Semesta Alam untuk menunjukkan jalan keluar bagi pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab. Dalam agama Hindu, Tuhan Semesta Alam itu adalah tuhan yang paling Agung dan dialah yang menjaga semua ratusan tuhan. Tuhan Semesta Alam ini , Kalau dalam Agama Islam disebut Allah SWT.

Selepas bermohon kepada Tuhan Semesta Alam, jiwa saya sedikit merasakan ketenangan bathin. Akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan agama Hindu dan mengkaji Agama lain. Saya berniat untuk mengkaji agama Buddha & Kristian , tetapi tidak terlintas untuk mengkaji agama Islam sebab perbuatan orang Islam sudah cukup membuktikan kesesatan mereka. Jauh sekali agama Islam dalam lubuk hati sanubari saya untuk mengkajinya.

Untuk lebih memahami ajaran Agama Budha, maka Saya masuk dan mempelajari sekian lamanya, namun pertanyaan dari jiwa saya masih belum terjawab. Kemudian saya masuk agama Kristian, sekian lamanya tetapi kegelisahan dalam jiwa masih ada. Saya mulai bingung dan ragu dengan Agama budha dan Kristen. Kedua agama ini tidak memberikan kepuasan dalam hidup saya. Saya mohon kepada Yesus agar berikan pertolongan terhadap masalah yang meresahkan hidup saya ini.

Pada satu malam yang indah saya bermimpi didatangi sesosok yang mengaku sebagai Nabi Isa AS. Baginda seolah-olah memahami apa yang menimpa saya, baginda menghampiri saya dan langsung memegang dada saya dan membacakan sesuatu yang saya tidak dapat memahaminya. Ketika itu saya terasa tenang dan bahagia sehingga air mata menintis...seolah-olah baginda memasukkan cahaya itu ke dalam dada saya. Belum sempat saya ucapkan terimakasih kepada baginda, baginda telah pergi tanpa menyebut satu perkataan atau satu pesan apapun kepada saya.

Apabila saya bangun, saya menangis kerana ketenangan yang sangat dekat itu terasa jauh, pasti akan hilang, dan pasti bingung akan datang lagi. Saya bertekad untuk melihat kepada kefahaman orang Islam mengenai Nabi Isa ini, disinilah saya mula memandang agama Islam. Selepas beberapa kajian dan beberapa tahun saya masuk agama Islam.
Saya merasakan ada sesuatu dalam agama ini yang bisa menjawab atau menenangkan jiwa saya , tapi masih tidak ketemu sekian lamanya, sehingga teman saya yang bantu memasukkan saya ke agama Islam ini berpesan kepada saya bahwa..' jangan masuk ke masjid lain untuk solat, hanya masjid ini sahaja Islam...' Nah , disini saya tersentak dan mula bertanya kepada orang lain... kenapa ada perbedaan apa antara masjid ini dan masjid lain...baru saya tahu paham apa yang dimaksudnya adalah saya Paham Qadyani ( Ahmadiyyah ), akhirnya saya itu juga saya tinggalkan kepercayaan yang diasingkan oleh seluruh umat Islam Indonesia dan langsung mencari sumber yang sebenarnya (mainstream)

Pada langkah yang pertama saya masuk ke masjid mainstream, saya di takdirkan Allah masuk ke masjid yang sedang berzikir dengan suara yang keras tetapi sistematik, nada mereka serentak dan terpadu. Ketika mendengar zikir itu hati saya bergelojak hidup , timbul ketenangan yang kuat, ketenangan yang sama persis ketika saya bermimpi bertemu dengan Nabi Isa as. Selepas zikrullah saya langsung bertemu dengan pimpinan zikir itu dan dia menganjurkan saya bertemu dengan guru mereka.

Apabila saya bertemu guru mereka, itulah detik yang sangat manis dalam hidup saya , seolah beliau itu bapa saya, begitu mesra dan penuh dengan kecintaan. Itulah dia Abah Anom, saya ambil baiat dengan beliau dan saya mohon agar Abah mendoakan keluarga saya yang sangat kuat berpegang dengan ajaran Hindu. Selepas beberapa tahun, terbukti doa Abah sangat mustajab, hampir semua adik beradik saya (yang keras berpegang dengan ajaran Hindu ) sudah muslim melainkan ibu saya yang masih belum pada hari ini . Saya bersyukur kepada Allah kerana telah menjawab permohonan saya sehingga bertemu dengan agama yang betul di tangan seorang yang sangat betul dalam hal kerohaniannya. Profesi saya sekarang bisnis dengan permaidani dengan buatan tangan sehingga berkat doa Abah , saya mempunyai kilang untuk menguruskan perdagangan ini, dan bisa mengirim ke Masjid Khadijah ini.

Saya makin diperlihatkan karomah Abah setiap hari dan ramai jugak masuk Islam di tangan beliau. Sebelum saya ke sini, Abah berkata dengan saya, katanya,..." kamu ini dulu membuat sembahan orang ( patung ), sekarang ini juga masih membuat bahagian dari sembahan orang ( sejadah )".

Selepas mengamalkan zikrullah hati saya makin tenang syukur dan saya ingin berpesan kepada para ikhwan Singapura, walaupun berjauhan dengan Abah, tapi dengan rajin beramal, pasti tercapai ketenangan yang sama.....saya dapat melihat sekarang ini bahwa agama selain Islam bukanlah sesat tetapi tidak complete, apabila orang Hindu jumpa saya dan mereka marah-marah kepada saya sebab meninggalkan agama mereka, saya katakan kepada mereka...... saya tidak tinggalkan agama Hindu tetapi saya upgrade kan agama saya dengan mengikuti agama Islam. Ini yang di ajarkan Abah kepada saya.- Sekian ringkas taklimat beliau.


Semoga Allah swt membukakan pintu hati mereka-mereka yang mencari kebenaran dan jalan kerohaniannya.




Seekor Ikan Keluar Dari Cawan Kopi

Cerita ini alfaqir peroleh dari seorang ikhwan Singapur yang bernama Sheikh Alwi Bin Sheikh Ali pada tahun 1996. Beliau menceritakan bahawa pernah satu ketika Abah di datangi seorang kiyai yang ada ilmu sakti beliau menunjukkan kesaktiannya kepada Abah, tapi dapat di aman kan oleh Abah.

Pak Kiyai ini mencoba Abah untuk mengeluarkan ilmu kesaktianya, namun Abah merendah diri, tetapi dia masih meminta dan memohon kepada Abah, lalu Abah tanya apa yang dia mau, Kiyai ini berkata 'seekor' ikan.

Lalu Abah mengisyaratkan dengan tangannya seolah-olah beliau memancing ikan di hadapannya, maka keluarlah se ekor ikan dari cawan kopinya Pak Kiyai ini. Ketika itu Pak Kiyai tercengang dan terbelalak, ia tidak percaya apa yang dia lihat, ada seekor ikan tersebut mengelitik-gelitik keluar dari cawan yang dia sendiri memintanya. Kemudian timbul keinsafan dalam diri Pak Kiyai ini dan mohon dari Abah agar ajarkan kepadanya ilmu tersebut, maka Abah memberikan baiáh zikir kepadanya.

Semoga Allah SWT merahmati semua para mursyid yang meneruskan memikul amanah 'cahaya haqiqah' dari satu jenerasi ke satu jenerasi yang lain.



Didatangi 100 Ulama yang akan mencoba kefahaman Pangersa Abah

Manqabah ini bersumberkan dari seorang ikhwan yang tidak mahu dikenali. Beliau adalah murid Abah di Singapura, yang paling banyak melihat karomah Abah dengan mata kepalanya sendiri secara langsung dan bukan hanya menerusi mendengar dari orang lain.

Sehingga beliau tidak mempunyai ruang dalam dirinya yang mengkhuatiri kewalian Abah walaupun banyak para guru yang hebat-hebat beliau telah ketemui sejak zaman mudanya.

Selepas keperrgian Pangersa Abah, kita tidak seharusnya bersedih terus-terusan, malah kita seharusnya bersyukur kepada Allah terus-terusan dimana Allah sempat menemukan dalam hidup kita seorang 'wara' Nya yang sangat hebat ini, dan lebih dari itu belajar dan ambil zikrullah darinya.

Kejadian ini saya lihat sebelum tahun 1995 dimana Abah mula uzur . Rombongan itu terdiri dari para ulama / kiyai kebanyakanya dari Bandung dan juga dari berbagai tempat, kelihatan mereka sudah menyiapkan soalan-soalan masing-masing untuk ditanyakan kepada Abah, masalah-masalah fiqih dan sebagainya- yang rumit-rumit dan payah-payah agar Abah tidak berdaya dalam menjawabnya dan mereka juga merekamnya, dengan seperti itu mereka bermaksud untuk menjatuhkan intellektual Abah dan menyebarkannya. Jumlah mereka yang ada dalam rombongan ini kurang lebih 100 orang.

Wakil dari rombongan itu memulai dengan kata-kata yang indah apabila sudah sampai berhadapan dengan Abah di Madrasah Suryalaya. Kata-katanya manis bak madu yang tumpah... bagaikan pembuka tirai bersilaturahim. Selepas itu Abah menyambut kata-kata aluan mereka, Abah turut menyambut kedatangan mereka dengan tangan terbuka dan Abah juga turut perihatin maksud mereka ke Suryalaya .

Abah mengatakan bahawa ‘Abah masih belajar’ dan Abah mengamalkan apa yang diajar oleh ayahandanya. Suasana tegang bertukar jadi hening dan terharu hanya dengan beberapa kata-kata Abah yang merendah diri itu, mereka kelihatan melinangkan air mata mendengar ucapan Abah yang merendah diri, akhirnya mereka semua menangis dan minta Abah baiátkan zikir. Pada awalnya mereka bersemangat untuk bertanya dengan niat yang tidak baik tetapi bertukar menjadi insaf dan taubat.

Kejadian seperti ini sama persis berlaku pada zaman Tuan Sheikh Abdul Qodir Jailani qs apabila beliau didatangi 100 ulama dari Baghdad dengan niat mencoba kefahaman agamanya, Tuan Sheikh menjawab semua soalan-soalan mereka satu persatu sebelum mereka mula membuka mulut untuk bertanya. Nah, disini terlihat cara yang sama berlaku antara Abah dan Tuan Sheikh hanya Abah bertindak dengan cara yang berlainan dari cara Tuan Sheikh kerana beliau mengambil sikap merendah dirinya dengan Tuan Sheikh .

Semoga Allah SWT mencururi rahmat dan KeredhaanNya kepada Abah dan para wakilnya, kerana telah berpenat lelah dan bersusah payah membimbing umat ke jalan yang diredhaiNya.
Gambar sisipan adalah gambar Madrasah Pondok Pesantren Suryalaya, di mana semua para tetamu Abah di sambutin dan di situ juga mereka yang meminta bai'at akan di bai'atkan.




Pendekar Silat Ter pelanting

Kami mendapatkan kisah ini dari seorang ikhwan Singapur yang melihat dengan mata kepalanya sendiri kejadian yang sangat ajaib ini. Beliau tidak mengizinkan namanya serta gambarnya di siarkan dalam blog ini.

Kira-kira pada tahun 1972, beliau sedang duduk-duduk bersama teman seorang dua dengan Abah di dalam madrasah, tiba-tiba pintu masuk yang berdekatan dengan tangga naik di tendang dengan sangat kuat sehingga terbuka pintu tersebut. Kata ikhwan ini , saya melihat seorang pendekar yang sangat hebat dan gerun kerana dia memakai pakaian pendekarnya yang lengkap serta benar-benar bersedia untuk menyerang.

Kata beliau, jika dia menuju ke Abah, saya rasa tenang sedikit tetapi jika dia menuju ke arah saya, habis semua cerita....! sambil berjenaka.

Abah dengan tenang menegur saya beserta teman disebelah : 'Ya jangan tengok, tutup matanya ( zikir ) khafi terus, bantu-bantu Abah...'

Pendekar ini kemudian menyeret kakinya kebumi pada setiap langkah kiri dan kanannya sambil membuka jurusan silatnya menuju ke Abah,...baru kami tahu bahawa dia memang berniat untuk menyerang Abah, tapi Abah dengan tenang duduk di tempatnya bersila sambil mengingatkan ikhwan untuk teruskan zikir khafinya.

Apabila, si pendekar ini dekat pada Abah kira jarak lagi 6 atau 7 langkah lagi, beliau terpelanting ke belakang dan jatuh rebah. Pendekar ini bangun semula dan membuat serangan keduanya, namun apabila sambil di lokasi yang sama tadi, beliau terpelanting ke belakang lagi. Semangatnya kuat dan buat kali ketiganya beliau bangun dan menguatkan jurusannya agat tidak gagal lagi. Apabila sampai ke lokasi atau garisan tadi, beliau terpelanting lagi dan terus pengsan.

Suasana sangat tengang tetapi zikir khafi sangat menenangkan. Abah memanggil petugas madrasah Almarhum Wak Din ( beliau juga adalah bekas pesilat dan berbadan besar yang telah berkhidmat dengan Abah sekian lamanya) untuk mengambil air untuk Abah membacakan dan untuk disapukan air tersebut ke muka pendekar yang pengsan itu. Sebaik sahaja pendekar itu di sapu Wak Din dengan air tersebut, beliau tersedar dari pengsannya dan terus menangis meminta ampun kepada Abah dan menyerah diri untuk menjadi murid Abah. Kemudian Abah mentalqinkannya zikir dan beliau menjadi ikhwan. Kurang pasti samada beliau ini masih hidup atau sudah pulang kerahmatullah.

Semoga Allah swt membantu terus kepada para hambaNya yang menjalankan amanah untuk hidupkan amalan zikrullah yang diperolehi secara tradisi ini dari satu guru ke satu guru sehingga ke Kanjeng Nabi S.A.W yang kami cintai, Ameen...... inilah dia 'sunnah' yang kita pertaruhkan pada akhir zaman...bukan mazahirnya sahaja tetapi jawahirnya.




Cara Abah Berjampi Air Sangat Unik

Ramai yang telah berkunjungan ke Abah di Suryalaya dapat melihat bagaimana Abah membaca jampinya ( ruqyah ) ke atas air yang di hajatkan sesuatu. Malah para jamaah beratur dengan barisan yang panjang untuk mendapatkan barokah jampiannya yang sangat unik.

Kebanyakkan waktu jampinya sangat cepat, mungkin beliau menggunakan ilmu ma'rifahnya dalam mengisikan air untuk diberkatin. Apabila gelas atau cawan yang di hadapkan di hadapan Abah, Abah hanya setakat memegang bibir cawan sahaja , kemudian beliau katakan ''udah'', sebagai tanda selesai dan pemohon boleh beredar untuk memberi lalun kepada yang lain.

Ada yang dari jauh belum sampai di hadapannya, beliau isyaratkan dengan tangannya sambil dikatakan ''udah'', ada pula yang datang dekat lalu di celupin jari telunjuknya dan ada juga yang dibacakan sesuatu dengan agak lama sedikit.

Dalam tahun 2001, alfaqir pernah berjunjungan ke Abah dan berpeluang untuk memberi Abah segelas susu untuk dibacakan atas niat tabaruk dalam thoriq, maka beliau membacanya sehingga hampir 15 minit lamanya, yang aneh tiada orang yang berhajat ketika itu untuk berjumpa dengan Abah.

Teknik-teknik ruqyah Abah ini sangat terkenal sehingga menjadi cerita-cerita di bibir para murid. Namun masih juga ada individu-individu yang kurang senang dengan cara Abah berjampi demikian.

Di khabarkan kepada alfaqir oleh seortang ikhwan yang enggan nama dan gambarnya disiarkan dalam blog ini, sebaik sahaja beliau pulang dari menziarahi Abah, ada kejadian berlaku.

"Ada seorang yang datang ke Suryalaya berhajat untuk minta dari Abah untuk di bacakan dalam botol airnya. Abah tunaikan hajatnya selepas mendengar permohonannya dengan hanya memegang bibir botol itu dengan mengatakan "udah''.

Si fulan ini, mungkin kali pertama melihat Abah jampi air, bersungut dan tidak senang dengan cara Abah itu. Seolah-olah mencurigai sambil merasakan apa yang dibacakan,...apa yang dilakukan, ngak ada apa-apa...! Lalu beliau selepas keluar dari Madrasah Suryalaya berjalan di lorong-lorong itu terlihat banyak kolam ikan...di tuangnya air dalam botol yang telah di jampikan Abah itu dengan merasakan ngak ada apa-apa air ini..hanya memegang botol 1, 2 saat.....'

Tidak lama kemudian, beliau datang semula ke kolam yang sudah dikeromoni orang kerana mereka melihat ikan-ikan dalam kolam tersebut timbul mati.

Baru beliau tahu betapa kuatnya jampian tersebut. Amanah manusia tidak bisa di angkat oleh haiwan, malah gunung ganang pun ngak bisa...satu renungan buat kita semua.

Semoga Allah SWT merahmati Abah Anom yang telah banyak membantu masyarakat Islam kita semua tanpa jemu-jemu sehingga akhir-akhir umurnya, di atas kerusi roda pun masih demikian.



Pandangan Habib Ali Batu Pahat Terhadap Abah Anom

Satu makluman kami perolehi dari Alfadhil Ustaz Mukhtar Bin Habib ketika beliau berkunjungan ke Batu Pahat menziarahi Almarhum Habib Ali. Almarhum Habib Ali adalah salah seorang wali Allah dan ahli mukasyifiin dari para hambaNya. Alfaqir sendiri sudah tiga kali menziarahi beliau, pada awalnya tahun 1997.

Ramai yang tidak mengenal Habib Ali ini sehingga Almarhum Al-Allamah Habib Omar bin Abdullah Al-Khatib mengkhabarkan kewaliannya kepada para muridnya di Singapura. Selepas kewafatan Habib Omar, barulah para murid berkunjungan ke rumah Habib Ali ini. Nama penuhnya ialah Almarhum Habib Ali bin Jakfar bin Ahmad bin Abdul Qadir Alaydrus

Rumah Habib Ali yang sangat sederhana itu sentiasa penuh dengan para tetamu dari Singapura. Antara karomahnya, apa yang kita bicarakan dalam perjalanan ketika menziarahinya, nanti sesudah berjumpa dengan beliau, selepas beramah mesra, beliau akan membawa perbualan yang seolah-olah menyambung perbualan yang di ucapkan dalam perjalanan.

Almarhum Habib Ali, sangat teliti dan halus perhatiannnya, beliau selalu memilih perkataan yang tepat untuk berbicara agar tidak keterlaluan atau berkurangan dalam ekspresinya.

Di khabarkan kepada kami , bahawa Ustaz Mukhtar apabila meneruskan pengajiannya di Pondok Pesantren Suryalaya, beliau berkunjungan ke Batu Pahat menziarahi Habib Ali untuk mendapatkan doa beliau. Pada tahun 2004 atau 2005, Ustaz Mukhtar ketika pulang bercuti ke tanah air ( Singapura ) , beliau menziarahi Habib Ali lagi. Apabila ditanya oleh Habib Ali mengenai tempat pengajiannya, Ustaz Mukhtar menjawab bahawa beliau belajar di bawah bimbingan Abah Anom. Apabila Habib Ali mendengar nama Abah Anom beliau mengatakan :


" Abah Anom adalah penegak agama Islam'.- tamat kata-kata almarhum habib.

Kata-kata Habib Ali mengembirakan Ustaz Mukhtar kerana Habib Ali sangat teliti orangnya dalam memberikan komentar atau maklumat, ditambahkan lagi beliau seorang wali Allah.

Penegak agama Islam dalam istilah Tasauf yang terdekat ialah sebutan 'Muhyiddin'' yang berarti 'Penghidupkan Agama''. Dengan seseorang itu berjaya menghidupkan agama artinya dia telah menegakkan agama, dan jika seseorang itu mematikan nilai-nilai agama artinya dia telah menghancurkan agama.-Alfaqir

Mungkin tak banyak orang yang tahu bahwa Habib Ali Batu Pahat ini dilahirkan di Purwakarta, Jawa Barat, pada tahun 1919. Sebagian keluarganya saat ini juga masih berada di sana.
Tahun 1926, yaitu saat berumur tujuh tahun, ia tiba di Singapura. Tapi hanya sebentar, lalu ia kembali lagi ke Indonesia. Tahun 1929, untuk kedua kalinya ia datang ke Singapura dan kemudian menetap di sana hingga tahun 1942.

Di Singapura, ia tinggal bersama ayah dan kakaknya, Habib Abdul Qadir bin Ja’far Alaydrus, di sebuah rumah di Arab Street. Ketika itu sang kakak barn datang dari Hadhramaut. Berdasarkan cerita yang pernah disampaikan Habib Ali sendiri, kedatangan sang kakak mendapat sambutan yang amat hangat dari penduduk Singapura pada saat itu. Habib Abdul Qadir sendiri wafat di Purwakarta dan dimakamkan di sana.

Tahun 1942, Habib Ali hijrah ke Batu Pahat, Johor, Malaysia sehingga hari wafatnya. Semasa hidupnya di negeri rantaunya yang baru ini, Habib Ali menjadi tempat mengadu berbagai permasalahan banyak orang, temasuk para muslimin Singapura.

Ayah Habib Ali, Habib Ja’far bin Ahmad Alaydrus, datang ke Singapura dari Purwarkarta dan menetap di Negeri Singa itu selama beberapa tahun pada tahun 1930-an dan tinggal di Lorong 30 Geylang. Habib Ja’far kembali ke Hadhramaut pada tahun 1938.
la wafat pada tahun 1976 di kota Tarim. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Zanbal, berdekatan dengan makam datuknya, Habib Abdullah Alaydrus.

Habib Ali wafat sekitar pukul 17.10 atau 17.15 petang pada hari Kamis 28 Jumadil Awal 1431 atau 13 Mei 2010 dalam usia 91 tahun.

Syed Ibrahim dan Syed Ja’far, keduanya cucu Habib Ali, dari putranya yang bemama Syed Husein, di sampingnya ketika itu. Hari wafatnya ini menjelang lima hari sebelum haul ayahandanya, Habib Ja’far bin Ahmad, yaitu pada 3 Jumadil Akhirah.

Dari saat Habib Ali wafat waktu dimandikan keesokan harinya, jenazahnya tak putus-putus dikunjungi ribuan manusia dari segala penjuru dan lapisan masyarakat, terutama dari Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Di antara yang hadir menyampaikan ta’ziyahnya pada saat itu adalah Syed Hamid bin Ja’far Al-Bar, mantan menteri luar negeri dan menteri dalam negeri Malaysia.
Begitu juga bacaan Al-Quran, Yaasin, dan tahlil tak putus-putusnya dibacakan hingga jenazahnya usai dimandikan oleh keluarga sekitar pukul 09.30, Jum’at pagi.

Karena begitu banyaknya penta’ziyah yang datang untuk dapat menghadiri prosesi shalat Jenazah, akhirnya jenazah Habib Ali dishalatkan sebanyak dua kali. Pertama, sebagaimana wasiatnya, dishalatkan di dalam rumah, yang diimami oleh Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad Alaydrus, dan kedua di luar rumah, dengan imam Habib Hasan bin Muhammad bin Salim Al-Attas.
Jenazahnya kemudian dimakamkan sebelum shalat Jum’at, 29 Jumadil Awal 1431 H/14 Mei 2010, di Tanah Pekuburan Islam Bukit Cermai, Batu Pahat, Johor, Malaysia. Habib Umar bin Hamid AI-Jilani dari Makkah yang membacakan talqin pada saat itu.




Berkat Doa Abah - Hidupku Berubah

Manqabah kali ke 19 ini ditulis dengan penuh kesyahduan, jari-jari yang menaib ini tidak secepat semalam, Abah telah meninggalkan kita pada tanggal masehi dimana Pondok Pesantren Suryalaya dibangunkan iaitu 5 September.

Telah perginya seorang yang tidak tidur selama 35 tahun pada awal kepimpinannya menjadi khalifah. Telah perginya seorang yang duduk terus menerus di atas kerusinya bersabar dengan fizikalnya selama 16 tahun di akhir hidupnya.

Beberapa tahun yang lalu, seorang pakar perubatan menawarkan perkhidmatannya secara percuma kerana ingin melihat Abah bangun berjalan, namun beliau menggeleng kepalanya sambil berkata : Jantungnya berdenyut bagaikan pemuda 25 tahun tapi fizikalnya lemah selemah seorang yang berumur 300 tahun. Isnin lalu Abah meninggal dunia tanpa sebarang penyakit dalam usia 96 tahun.

Alfaqir mengambil baiáh zikir pada tahun 1982 dalam usia 13 tahun dengan Almukaram Ustaz Hj Ali di Singapura, tetapi lebih awal dari itu alfaqir sudah bermain-main dirumah beliau di Geylang Serai seawal tahun 1979 mengikut bapa alfaqir Tuan Hj Saleh Khan Surattee yang aktif disana dengan Almukaram.

Pada tahun 1983, alfaqir berpeluang ikut berangkat ke Suryalaya dengan keluarga, gembira terasa amat sangat , terutama apabila hajat kita untuk Abah doakan termakbul, sudah banyak terdengar di bibir-bibir para ikhwan hal demikian dan terjadi kemakbulannya, ada yang tak dapat anak, apabila Abah doakan kemudian dapat anak, ada yang sekian lama tak dapat jodoh, bila Abah doakan dapat, dan macam-macam lagi. Dalam bersiap-siap untuk berangkat, alfaqir mencari-cari hajat mana satu yang harus alfaqir tanyakan agar di doakan Abah, masih belum ketemu mungkin kerana usia yang masih muda.

Apabila mula berangkat di airport Changi, abang ipar alfaqir Hj Mohd Tahir yang tidak sempat berangkat sama ke Suryalaya berpesan ke telinga alfaqir,..'Ghouse minta Abah doakan faham bahasa Arab !...Alfaqir terasa gembira dan senang kerana ianya adalah satu permintaan yang sangat sesuai.' Pada ketika itu alfaqir masih di sekolah sekular Whitley Secondary School dan tidak ada sebarang asas dalam bahasa Arab, tetapi telah mula belajar bahasa Arab fe'lu maadhi dan fe'lu mudari dengan Almukaram Ustaz Hj Ali di rumahnya di Bedok Blk 543 ketika itu.

Apabila sudah berada di Suryalaya, alfaqir berpeluang memohon pada Abah agar Abah mendoakan saya agar faham dalam bahasa Arab. Apabila Abah mendengarkan hajat alfaqir itu, beliau terus berkata dengan penuh kegembiraan : 'Waah bagus niat itu', Ye Abah doakan''. Alfaqir turut gembira dengan kegembiraan Abah, kemudian Abah bertanya alfaqir : ''apakah sekarang kamu sedang belajar bahasa Arab ?'Alfaqir menjawab dengan spontan 'Ye dengan Ustaz Ali." Mendengarkan jawabannya Abah bertambah gembira dan menyebutkan... Ábah doakan'.

Selepas 2 tahun dari detik-detik manis itu, alfaqir beranikan diri memohon agar dapat menyertai pengajian di Madrasah Aljunied Al-Islamiah di Singapura - -sebuah sekolah yang sangat terkemuka dalam bahasa Arab yang hanya menerima penyertaan dari murid-murid yang sudah ada asas dalam bahasa arab.

Alhamdulilah, berkat doa Abah, alfaqir diterima untuk menyambung belajar di Madrasah Aljunied tanpa pendidikan asas dalam bahasa arab ketika itu . Satu perkara yang sangat mengkagumkan dan tidak pernah berlaku dalam tradisi Madrasah tersebut. Malah dalam 6 tahun sahaja, alfaqir dapat selesaikan semua peringkat pengajian di madrasah tersebut yang biasanya di lalui murid biasa selama 12 tahun sebelum tamat madrasah.

Berkat doa para solihin ini terbukti, sangat berkesan, apabila dibuka kan kefahaman yang luas dalam bahasa Arab sehingga pada tiap tahun alfaqir menyandang posisi pertama atau kedua di dalam darjah...tidak pernah posisi ketiga,....Alhamdulilah...

Lebih dari itu, alfaqir sangat tersentuh apabila berjaya dapat sambung belajar ke Mesir dengan biasiswa , ke Universiti Al-Azhar dan di terima masuk ke kuliah Lughatul Arabiah -bahasa Arab. Alhamdulilah, ni'mat kebersamaan dengan orang solih, manfaatnya jalan terus hingga ke hari ini dan mendapat pengetahuan dari kitab-kitab Arab secara santai pada hari-hari biasa hari ini...




Prof Drs Haji Aboebakar Atcheh

Seorang tokoh agama, ulama, pemimpin pertubuhan Islam dan penulis yang tak asing lagi dalam masyarakat kita, beliau adalah Prof Haji Aboebakar Atjeh yang dilahirkan pada tahun 1909 dan wafatnya diperkirakan jatuh pada tahun 1979 . 


Siapa yang dapat menyangka tokoh agama dan ulama ini - yang mempunyai lebih dari 19 karya penulisan agungnya, pemimpin pertubuhan yang besar di Indonesia , pernah menentang Tasauf dan Thoriqah , akhirnya menyerahkan diri untuk beramal dengan amalan berthoriqah.

Dikatakan, Almarhum Prof Aboebakar Atjeh, dalam tahun-tahun kegemilangannya dalam kepimpinannya, menentang ajaran Tasauf dan Thoriqah khusus di Indonesia , dalam masa yang sama beliau mencari seorang guru mursyid yang asli dalam senyap. Beliau telah bermusafir ribuan batu jauhnya meninggalkan tanah air kerana kehausan rohani dalam hidupnya. 
Bagi Alfaqir, riwayat hidup Almarhum Prof Aboebakar ini sama persisi seperti riwayat hidup Imam Al-Ghazali, yang pada awalnya menentang Tasauf tapi kemudian mencari dan akhirnya bertemu dengan orang yang di cari-cari. Almarhum Prof Aboebakar Atjeh telah ke India, China, Turkey dan lain-lain Negara Arab/ Islam dalam mencari seorang guru mursyid yang asli, bertahun lamanya, beliau hidup dalam bermusafir dalam kehausan rohani.

Pada tahun 1976 , ketika almarhum mengunjungi tempat kami di Singapura beliau menceritakan dengan titisan air mata kekesalan dan terharu atas ni’mat Allah , bahawa beliau bersyukur bertemu dengan guru mursyid yang beliau sendiri letakkan ciri-cirinya berdasarkan kajiannya itu, akhirnya berhasil, bila ditanya oleh ikhwan kami Hj Yahya Hanafiah - dimana Almarhum menginap selama seminggu dirumahnya ( gambar photo Hj Yahya no 4 dari kiri ) , 
Kenapa bapak kelihatan kesal lebih dari gembira ? ‘Jawab Almarhum : ‘Bapak berjumpa guru mursyid dalam negeri sendiri, bapak jumpa Abah, dalam usia sisa-sisa ini dan sudah tidak boleh buat apa-apa lagi, jika bapak masih muda lagi, pasti banyak bapak boleh bantu Abah....’’ kata-kata Almarhum yang di akhiri dengan tangisan tanpa suara yang memberikan kesan kepada sekeliling yang mendengar dan mereka juga melinangkan airmata

Perjuangan ilmiah Almarhum tidak habis begitu sahaja, Abah memintanya agar di terjemahkan kitab Miftahus Sudur yang berbahasa Arab ke bahasa Indonesia. Almarhum sempat menterjemahkannya dengan baik dan sempurna , sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Sehingga hari ini, jariah Almarhum masih berjalan terus kerana kitab ini telah dapat dimanfaatkan lebih dari 5 juta para ikhwan Indonesia ( catatan statisktik 1987 ) yang mengamalkan thoriqahnya dan berapa banyak lagi yang dapat manfaat dari kitab ini dari para pembaca umat Islam secara umum tidak dapat kita mengagaknya.

Penerimaan Almarhum dan baiáhnya ke dalam Thoriqah Qodiriyah Naqsyabandiyah di Pondok Pesantren Suryalaya , membataskan bagi dirinya ciri-ciri guru mursyid pada awalnya berdasarkan kajian ilmu Tasauf, sehingga bertahun-tahun hidup kehausan dalam bermusafir, melambangkan kehebatan dan ketepatan ilmunya dan sekaligus adalah isyarat kepada karomah Abah Anom.

Semoga Allah mencucurkan RahmatNya kepada Almarhum Bapak Professor Haji Aboebakar Atjeh, Alfatehah .......

Prof Dr Haji Abdul Malik Karim Amrullah - Hamka
(Oleh : Ikhwan SIngapura)

‘’Hamka’’ adalah ringkasan dari nama penuhnya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Lahir di desa Tanah Sirah, Sungai Batang, Maninjau, Minangkabau, Sumatera Barat, Indonesia, pada tanggal 16 Februari 1908 atau bertepatan dengan 13 Muharram 1326 H.

Siapa sangka mantan pemimpin Pertubuhan Islam Muhammadiyah Buya Hamka ternyata mengikuti Thoriqoh Qodiriyah Naqsabandiyah dari Pondok Pesantren Suryalaya. Ketua MUI ( Majlis Ulama Indonesia ) pertama ini berbaiat kepada Abah Anom, mursyid thoriqah dari Pesantren Suryalaya Tasikmalaya lebih kurang pada awal tahun 1981. Ketika itu ayahanda Alfaqir, Hj Saleh Khan berada di Suryalaya menziarahi Abah Anom dan beliau mengkhabarkan kami bahawa apabila upacara baiát mengambil tempat, Abah dan Hamka masuk ke ruang pekarangan keluarga dan di tutup pintunya agar tidak di lihat-lihat orang semasa baiát di jalankan nanti. Ini cara terhormat bagi para ulama mengambil baiát.

Perkara yang sama ini juga dilaporkan oleh Dr Sri Mulyati, pengajar tasawwuf UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, baru-baru ini, sambil berkata : ‘Ini penelitian pribadi saya ketika menyelesaikan disertasi, ada fotonya ketika Buya Hamka berbaiat dengan Abah Anom.

Ketika Buya Hamka berkunjungan ke Singapura pada tahun 1981, alfaqir sempat mendengar ceramahnya di Masjid Muhajirin, masih teringat jelas kata-katanya dan penjelasannya yang menunjukkan beliau sudah berbaiát dengan Abah, ketika dalam ceramahnya beliau berkata :

‘Dalam berzikir kepada Allah ada kaifiatnya kemana di palingkan kepalanya, dari bawah dahulu kemudian ke atas, lalu ke kanan dan kemudian ke kiri. Bukan sebarangan..mengeleng ketika lafaz nafi, meng ‘ia’ ketika lafaz isbat.., .beliau berkata secara gurauan’- lebih kurang maknanya.

Majlis tersebut adalah majlis ceramah beliau terakhir di Singapura yang dihadirikan oleh ribuan para jamaah yang mengejarnya untuk bersalaman, alfaqir berjaya dalam gelutan manusia untuk bersalaman dengannya...alhamdulilah.

Mantan Ketua Umum Fatayat NU - Dr Sri Mulyati menuturkan, Buya Hamka sendiri pernah berujar di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya bahwa dirinya bukanlah Hamka, tetapi Hampa. Katanya lagi : ’Saya tahu sejarahnya, saya tahu tokoh-tokohnya, tetapi saya tidak termasuk di dalamnya, karena itu saya mau masuk’. Akhirnya beliau masuk, karena mungkin haus spiritual. Buya Hamka berkata: ‘diantara makhluk dan kholik itu ada perjalanan yang harus kita tempuh. Inilah yang kita katakan thoriqoh.’

Hamka memang dikenali memahami dunia tasauf. Salah satu karyanya adalah Tasawuf Modern, yang mengupas dunia tasawuf dan penerapannya pada era modern ini. Masih ada satu lagi karya tasaufnya yang terakhir belum dicetak. Buya Hamka wafat pada 24 bulan Julai tahun 1981 bertepatan dengan bulan Ramadhan dalam umurnya 73 tahun masehi. Seluruh ikhwan TQN Indonesia, Singapura dan Malaysia menunaikan solat Ghaib baginya sebagaimana yang diminta Pondok Pesantren Suryalaya.

Tersebut kisah dalam facebook teman saya bernama Nen Maarof bahawa......"

Buya Hamka pulang dari Mekah dan melawat Pondok Persantren Suryalaya (PPS). Katanya mendapat petunjuk Baginda saw agar melawat seorang hamba ALLAH yang ikhlas. Bila tiba di PPS..didapati..kiyai mursyid disitu "sempoi" sahaja...tak berjubah, serban dan berjenggot macam fahamnya tentang sunnah. Para santri yakni muridin pun biasa saja...

Maka dimohon izin untuk membetulkan keadaan pada pak kiyai mursyid itu...Maka dikisahkan 3 hari 3 malam..Buya Hamka asyik bagi ceramah jer...pelbagai ilmu khasnya tasauf yang mencakupi sunnah dan adab dicurahkan...pelbagai kesilapan pada persepsi beliau cuba dinasihati dan diperbetulkan..

Sehinggalah pada hari Buya Hamka ingin pulang...maka Pak Kiyai Mursyid pun memeluknya dan berkata..."Ucapan jutaan terima kasih atas banyak ilmu yang telah dicurahkan....tapi Abah mohon Buya katakan pada Abah...bagaimana mahu diamalkan semuanya...Abah sendiri tidak mampu, apatah lagi para santri sekalian...mohon ditunjuki ya Buya..."

maka ketika itu...tiba tiba..Buya Hamka tersedar..dn menangis terisak isak serta melutut pada Pk Kiyai Mursyid..."benar Abah...ilmu yang banyak tidak guna jika tak dapat diamalkan....Maka sekarang saya pula mohon Abah tunjukkan sebaik baik amalan...Maka Buya Hamka pun ditalqinkan dengan kalimah Ikhlas...La Ila Ha Ilal ALLAH"

Akhir hayat...sebelum Buya Hamka meninggal...beliau pergi berkhalwat khusus pada Muryid di PPS...maka seminggu sebelum masa itu tiba..Maka Kiyai Mursyid menyuruhnya pulang ke rumah....Selesaikan segala urusan wasiat pada keluargamu...dan tumpukan tawajuh sepenuhnya agar baik serta mulia kembalinya...masamu selepas solat Jumaat.

Maka selesai solat jumaat...maka kembalilah Buya Hamka ke rahmatullah...dengan akhir kalam kalimah ikhlas yang dimuliakannya sebagai amalan harian....Cuma mejadi isu kerana jari telunjuk kananya masih gerak gerak sedangkan doktor sudah mengesahkan kematiannya.....seperti isyarat bertasbih.

Maka dilaporkan pada Kiyai Mursyid. Maka Kiyai Mursyid dengan tersenyum.. menghantar wakilnya....Setibanya sang wakil...lantas memberi salam pada jenazah..dan mengatakan.."udah udah..ruhmu dan nyawamu sudah kembali..jasadnya harus tenang...jangan mencarik adat..." maka hentilah jari yang bertasbih itu.

Al Fatihah kepada Buya Hamka...semoga digolongkan dalam golongan solihin. Amin.Amin Amin.-Tamat nukilan dari Nen Maarof

Penyertaan Buya Hamka ke Thoriqah Qodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya bukan sahaja satu pencapaian murni bagi Buya Hamka sahaja, demi rohaninya, tapi ianya juga salah satu karomah Abah Anom... gai mana menumpahkan keinsafan kedalam diri manusia, apalagi ulama.

Ini gambar Buya Hamka di beri Abah sebatang tongkat dan sebuah jubah.

Letusan Gunung Galunggung 1982
( Oleh : Ikhwan Singapura )

Gunung Galunggung (dahulunya dieja Galoen-gong) termasuk gunung yang aktif di Jawa Barat, Indonesia, kira-kira 80 km tenggara wilayah Jawa Barat, Bandung (atau kira-kira 25 km ke timur Jawa Barat dari bandar Garut). Letusan sebelumnya adalah pada tahun 1882.

Letusan terakhir ini terjadi pada 5 April 1982 yang disertai dengan suara dentuman, pijaran api dan kilatan halilintar. Kegiatan ini berlangsung selama 6 bulan dan berakhir pada 8 Januari 1983. Selama letusan ini terjadi ada sekitar 18 orang meninggal dunia sebagian besar terjadi karena sebab tidak kaitan langsung dengan letusan seperti kecelakaan lalu lintas atau umur yang sudah tua, kedinginan dan kekurangan pangan. Diperkirakan pada letusan ini kerugian sekitar Rp.1 Milyar(1982) dan 22 desa ditinggal tanpa penghuni.

Letusan ini menyebabkan berubahnya peta wilayah pada radius 20km dari kawah gunung Galunggung yang mencakup Kecamatan Indihiang, Kecamatan Sukaratu dan Kecamatan Leuwisari. Perubahan ini di sebabkan pada terputusnya jaringan jalan, aliran sungai dan areal perkampungan yang diakibatkan melimpahnya lava dingin berupa material batu, kerikil dan pasir.


Pondok Pesantren Suryalaya terletak di kaki gunung Galunggung. Selepas letusan yang bersejarah ini, para wakil dari Bangsa-Bangsa Bersatu, para pengkaji bumi datang membuat wisata dan kajian berdasarkan ilmu kaji bumi mereka. Mereka mengungkapkan kekaguman dan kehairanan kerana mendapatkan Pondok Pesantren Suryalaya terletak sergam di kaki gunung tersebut tiada tersentuh sedikit pun dari limpahannya, padahal semua limpahan lavanya terlimpah jatuh dengan dahsyatnya di bahagian sebelah gunung yang lain dan jauh pula pengalirannya.


Abah membuat ucapannya sempena letusan itu sambil berkata : ‘ Kita harus bersyukur kerana Allah SWT masih ingin perjalanan kita diteruskan.’
 
Semoga Allah mencucuri Rahmat dan KeridhaanNya kepada Abah Anom- Hadratus Sheikh Ahmad Sohibul Wafa' Tajul Arifiin yang telah membantu menyelamatkan jutaan umat dengan doa-doanya serta karomahnya.

Sumber: http://tqnmargadana.blogspot.com/