Minggu, 27 Januari 2013

Safari Maulid "Al Muqorrobin" Kendal 3

Sabtu, 26 Januari 2013

Safari Maulid "Al Muqorrobin" Kendal 2

Safari Maulid "Al Muqorrobin" Kendal

Safari Maulid Simtudduror Majlis Ta'lim "Al-Muqorrobin" Kendal
Jum'at, 25 Januari 2013
di Masjid "Baitul Izzah" Kebonharjo, Patebon, Kendal, Jawa Tengah

Rabu, 23 Januari 2013

Biografi Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad

Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad atau yang biasa di panggil Abah Sepuh, lahir tahun 1836 di kampung Cicalung Kecamatan Tarikolot Kabupaten Sumedang (sekarang, Kp Cicalung Desa Tanjungsari Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya) dari pasangan Rd Nura Pradja (Eyang Upas, yang kemudian bernama Nur Muhammad) dengan Ibu Emah. Beliau dibesarkan oleh uwaknya yang dikenal sebagai Kyai Jangkung. Sejak kecil, beliau sudah gemar mengaji/mesantren dan membantu orang tua dan keluarga, serta suka memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Setelah menyelesaikan pendidikan agama dalam bidang akidah, fiqih, dan lain-lain di tempat orang tuanya. Di Pesantren Sukamiskin Bandung beliau mendalami fiqih, nahwu, dan sorof. Beliau kemudian mendarmabaktikan ilmunya di tengah-tengah masyarakat dengan mendirikan pengajian di daerahnya dan mendirikan pengajian di daerah Tundagan Tasikmalaya. Beliau kemudian menunaikan ibadah Haji yang pertama.

Walaupun Syaikh Abdullah Mubarok telah menjadi pimpinan dan mengasuh sebuah pengajian pada ta hun 1890 di Tundagan Tasikmalaya, beliau masih terus belajar dan mendalami ilmuThariqah Qadiriyah Naqsabandiyah kepada Mama Guru Agung Syaikh Tolhah bin Talabudin di daerah Trusmi dan Kalisapu Cirebon. Setelah sekian lamanya pulang-pergi antara Tasikmalaya-Cirebon untuk memperdalam ilmu tarekat, akhirnya beliau memperoleh kepercayaan dan diangkat menjadi Wakil Talqin. Sekitar tahun 1908 dalam usia 72 tahun, beliau diangkat secara resmi (khirqoh) sebagai guru dan pemimpin pengamalan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah oleh Syaikh Tolhah. Beliau juga memperoleh bimbingan ilmu tarekat dan (bertabaruk) kepada Syaikh Kholil Bangk alan Madura dan bahkan memperoleh ijazah khusus Shalawat Bani Hasyim.

Karena situasi dan kondisi di daerah Tundagan kurang menguntungkan dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah, beliau beserta keluarga pindah ke Rancameong Gedebage dan tinggal di rumah H. Tirta untuk sementara. Selanjutnya beliau pindah ke Kampung Cisero (sekarang Cisirna) jarak 2,5 km dari Dusun Godebag dan tinggal di rumah ayahnya.

Pondok Pesantren Suryalaya

Sejarah Pondok Pesantren Suryalaya

Pondok Pesantren Suryalaya dirintis oleh Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad atau yang dikenal dengan panggilan Abah Sepuh, pada masa perintisannya banyak mengalami hambatan dan rintangan, baik dari pemerintah kolonial Belanda maupun dari masyarakat sekitar. Juga lingkungan alam (geografis) yang cukup menyulitkan.

Namun Alhamdullilah, dengan izin Allah SWT dan juga atas restu dari guru beliau, Syaikh Tholhah bin Talabudin Kalisapu Cirebon semua itu dapat dilalui dengan selamat. Hingga pada tanggal 7 Rajab 1323 H atau 5 September 1905, Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad dapat mendirikan sebuah pesantren walaupun dengan modal awal sebuah mesjid yang terletak di kampung Godebag, desa Tanjung Kerta. Pondok Pesantren Suryalaya itu sendiri diambil dari istilah sunda yaitu Surya = Matahari, Laya = Tempat terbit, jadi Suryalaya secara harfiah mengandung arti tempat matahari terbit.

Pada awalnya Syeikh Abdullah bin Nur Muhammad sempat bimbang, akan tetapi guru beliau Syaikh Tholhah bin Talabudin memberikan motivasi dan dorongan juga bimbingan khusus kepadanya, bahkan beliau pernah tinggal beberapa hari sebagai wujud restu dan dukungannya. Pada tahun 1908 atau tiga tahun setelah berdirinya Pondok Pesantren Suryalaya, Abah Sepuh mendapatkan khirqoh (legitimasi penguatan sebagai guru mursyid) dari Syaikh Tholhah bin Talabudin

Seiring perjalanan waktu, Pondok Pesantren Suryalaya semakin berkembang dan mendapat pengakuan serta simpati dari masyarakat, sarana pendidikan pun semakin bertambah, begitu pula jumlah pengikut/murid yang biasa disebut ikhwan.
 
Wajah Suryalaya Tempo Doeloe. Latar belakang Mesjid Nurul Asror dan Menaranya

Karomah Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa

Pernah ada seorang wali besar di Tarim, guru dari Guru Mulia Almusnid alhabib Umar bin Hafidh, namanya Hb Abdulqadir Almasyhur, ketika hb munzir datang menjumpainya, maka habib itu yg sudah tua renta langsung menangis.. dan berkata : WAHAI MUHAMMAD...! (saw), maka Hb Munzir berkata : saya Munzir, nama saya bukan Muhammad.., maka habib itu berkata : ENGKAU MUHAMMAD SAW..!, ENGKAU MUHAMMAD.. SAW!, maka Habib Munzir diam... lalu ketika ALhabib Umar bin Hafidh datang maka segera alhabib Abdulqadir almasyhur berkata : wahai umar, inilah Maula Jawa (Tuan Penguasa Pulau Jawa), maka Alhabib Umar bin Hafidh hanya senyam senyum.. (kalo ga percaya boleh tanya pada alumni pertama DM)lihat kemanapun beliau pergi pasti disambut tangis ummat dan cinta, bahkan sampai ke pedalaman irian, ongkos sendiri, masuk ke daerah yg sudah ratusan tahun belum dijamah para da'i, ratusan orang yg sudah masuk islam ditangannya, banyak orang bermimpi Rasul saw selalu hadir di majelisnya,

Bahkan ada orang wanita dari australia yg selalu mimpi Rasul saw, ia sudah bai'at dengan banyak thariqah, dan 10 tahun ia tak lagi bisa melihat Rasul saw entah kenapa, namun ketika ia hadir di Majelis Hb Munzir di masjid almunawar, ia bisa melihat lagi Rasulullah saw..maka berkata orang itu, sungguh habib yg satu ini adalah syeikh Futuh ku, dia membuka hijabku tanpa ia mengenalku, dia benar benar dicintai oleh Rasul saw, kabar itu disampaikan pada hb munzir, dan beliau hanya menunduk malu..

Ketika orang ramai minta agar Habib Umar maulakhela didoakan karena sakit, maka beliau tenang tenang saja, dan berkata : Habib Nofel bin Jindan yg akan wafat, dan Habib Umar Maulakhela masih panjang usianya.. benar saja, keesokan harinya Hb Nofel bin Jindan wafat, dan Hb Umar maulakhela sembuh dan keluar dari opname.., itu beberapa tahun yg lalu..
Senin, 21 Januari 2013

Makam Kyai Raden Santri



Pangeran SINGOSARI adik PANEMBAHAN SENOPATI
Gunung Pring (Magelang Jawa tenggah)

Selepas runtuhnya kedhaton Majapahit yang ditandai dengan sengakalan Sirna Ilang Kertaning Bhumi, maka putra-putri Brawijaya V juga menyebar ke berbagai daerah. Satu diantara pangeran tersebut bernama Raden Bondan Kejawen. Dialah ayah dari Ki Ageng Getas Pendowo yang menurunkan Ki Ageng Selo. Nama terakhir ini terkenal sebagai tokoh legenda yang konon dapat menakhlukkan, bahkan menangkap petir dalam sebuah pertempuran yang sangat dahsyat hingga meninggalkan api abadi di daerah Mrapen. Dirinyalah pula yang menciptakan tombak Kyai Plered, sebuah pusaka yang kemudian secara turun-temurun menjadi piandel bagi dinasti Mentawisan.

Tombak sakti inilah yang kelak diturunkan kepada Ki Ageng Enis dan sampai kepada Ki Ageng Pemanahan dan Danang Sutawijaya. Di masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya di Pajang, terjadilah upaya kraman, perebutan hak waris atas tahta Demak, yang dilakukan oleh Arya Jipang atau dikenal pula sebagai Arya Penangsang.

Dalam suatu peperangan yang sangat sengit akhirnya tombak Kyai Plered berhasil disarangkan ke perut Arya Jipang hingga mbrodhol, terurai ususnya. Dan pemberontakan pun berhasil dipadamkan.

Atas jasa-jasa yang dilakukan Panglima Wiratamtama Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi dalam mengatur strategi menghadapi Arya Jipang, maka Sultan Hadiwijaya berkenan memberikan Alas Mentaok sebagai tanah perdikan kepada Ki Ageng Pemanahan, sedangkan Ki Penjawi mendapat hadiah yang sama di wilayah Pati.

Karomah Mbah Kyai Dalhar, Watucongol

Berikut ini adalah ringkasan manaqib beliau yang penulis peroleh dari keterangan keluarga. Terutama kakek penulis yaitu KH Ahmad Abdul Haq dan beberapa petikan catatan yang penulis peroleh dari catatan – catatan Mbah Kyai Dalhar.

Kelahiran & Nasabnya

Mbah Kyai Dalhar lahir di komplek pesantren Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang pada hari Rabu, 10 Syawal 1286 H atau 10 Syawal 1798 – Je (12 Januari 1870 M). Ketika lahir beliau diberi nama oleh ayahnya dengan nama Nahrowi. Ayahnya adalah seorang mudda’i ilallah bernama Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo. Kyai Abdurrauf adalah salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro. Nasab Kyai Hasan Tuqo sendiri sampai kepada Sunan Amangkurat Mas atau Amangkurat III. Oleh karenanya sebagai keturunan raja, Kyai Hasan Tuqo juga mempunyai nama lain dengan sebutan Raden Bagus Kemuning.

Diriwayatkan, Kyai Hasan Tuqo keluar dari komplek keraton karena beliau memang lebih senang mempelajari ilmu agama daripada hidup dalam kepriyayian. Belakangan waktu baru diketahui jika beliau hidup menyepi didaerah Godean, Yogyakarta. Sekarang desa tempat beliau tinggal dikenal dengan nama desa Tetuko. Sementara itu salah seorang putera beliau yang bernama Abdurrauf juga mengikuti jejak ayahnya yaitu senang mengkaji ilmu agama. Namun ketika Pangeran Diponegoro membutuhkan kemampuan beliau untuk bersama – sama memerangi penjajah Belanda, Abdurrauf tergerak hatinya untuk membantu sang Pangeran.

Dalam gerilyanya, pasukan Pangeran Diponegoro sempat mempertahankan wilayah Magelang dari penjajahan secara habis – habisan. Karena Magelang bagi pandangan militer Belanda nilainya amat strategis untuk penguasaan teritori lintas Kedu. Oleh karenanya, Pangeran Diponegoro membutuhkan figure – figure yang dapat membantu perjuangan beliau melawan Belanda sekaligus dapat menguatkan ruhul jihad dimasyarakat. Menilik dari kelebihan yang dimilikinya serta beratnya perjuangan waktu itu maka diputuskanlah agar Abdurrauf diserahi tugas untuk mempertahankan serta menjaga wilayah Muntilan dan sekitarnya. Untuk ini Abdurrauf kemudian tinggal di dukuh Tempur, Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan. Beliau lalu membangun sebuah pesantren sehingga masyhurlah namanya menjadi Kyai Abdurrauf.
Sabtu, 19 Januari 2013

Doa Sebelum Dan Sesudah Pelajaran


دُعَاءْ أَوَّلْ فَلاَجَارَانْ
اَللَّهُمَّ افْتَحْ عَلَيَّ فُتُوْحَ الْعَارِفِيْنَ بِحِكْمَتِكَ وَانْشُرْ عَلَيَّ رَحْمَتَكَ وَذَكِّرْنِىْ مَا نَسِيْتُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ
اَللَّهُمَّ إِنِّى قَدِاسْتَوْدَعْتُكَ مَا عَلَّمْتَنِيْهِ فَارْدُدْهُ اِلَيَّ عِنْدَ حَاجَتِيْ اِلَيْهِ وَلاَ تُنْسِنِيْهِ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Sanad Al Fiyah: PP. Lirboyo


Khusus untuk Santri PP. Lirboyo berikut ini Sanad Alfiyah Ibnu Malik, mohon maaf bila terdapat kesalahan dalam pengetikan. oleh Kang Huda
 
بسم الله الرحمن الرحيم


الحمدلله الذي جعل طلب الإسناد ممايتشرف به اولول الهمم وهو من خصائص هذه الأمة المحمّدية من بين سائرالأمم, والصلاة والسلام على سيد العرب والعجم سيدنا ومولانا محمّد النبي الاكرم وعلى اله الطيبين الطاهرين وصحابته والتابعين لهم بإحسان الى انتهاء الأيام اماتعد فيقول الأسناذ امين الهدى أروي الفية ابن مالك عن الفقير الكياهي احمد ادريس مرزقي عن ابي الفيض محدث الحرم مسند الدنيا علم الدين الشيخ محمّد ياسين محمد عيسى الفاداني المكي عن العلامة الفقيه النحويّ الشيخ محمد علي بن حسين المالكيّ المكيّ عن اخيه المفتى الشيخ محمد عابد بن حسين المالكيّ المكيّ عن العلامة الفقيه مفتى مكة السيد احمد بن زينى دحلان عن الشيخ عثمان بن حسن الدّمياطي نزيل مكة عن الإمام المسند محمد بن محمد بن احمد بن احمد عبد القادر الشهير بالأمير الكبير الملكيّ المصريّ عن المحقق شمس الدين محمد بن سالم بن احمد الخفنيّ الأزهريّ عن ابي حامد محمّد بن محمد بن محمد البديريّ الدمياطي المعروف بإبن الميت المحدث السند ابي الإسرار حسن بن علي العجيمى المكيّ عن العلامة القاضى شهاب الدين احمد بن محمد الخفاجيّ عن الشمس محمد بن عبدالرحمن العلقميّ عن الحافظ جلال الدين عبد الرحمن بن ابي بكر السيوطي  ( ح )

Gus Miek: Nyantri di Lirboyo


GUS MIEK DI PESANTREN LIRBOYO


KH. Djazuli telah sampai pada satu keyakinan bahwa Gus Miek benar-benar memiliki keistimewaan dibanding putra-putranya yang lain.


Dengan menimbang berbagai peristiwa yang dia saksikan sendiri, juga keterangan-keterangan kiai sepuh dan para santri kepercayaannya yang selama ini menemani Gus Miek, dia kemudian membiarkan Gus Miek menentukan jalan hidupnya sendiri karena bisa jadi telah ada yang membimbing Gus Miek secara ruhani. Apalagi, Gus Miek telah memasuki usia baligh yang berarti sudah harus bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Sudah waktunya dia diberi kebebasan menentukan pilihan hidupnya sebagaimana yang selalu disarankan istrinya, Nyai Rodhiyah, selama ini.


Setelah menunjukkan kemampuannya kepada kedua orang tuanya, beberapa bulan kemudian, Gus Miek melanjutkan perjalanan hidupnya dengan mondok di Lirboyo. Di sana, dia satu kamar dengan ustadz Ali Bakar. Kebiasaan tidur siang dan tidak tidur malam kian membuatnya tersiksa. Sementara para santri yang lain tidak berani bergaul dengannya karena takut dengan ustadz Ali Bakar. Bila ustadz Ali Bakar di kamar, Gus Miek biasanya duduk melamun di serambi masjid menghadap ke utara. Dan, bila ustadz Ali Bakar tidak berada di kamar karena pulang ke Bandar, baru ia tidur di kamar.

Di pondok ini, dia cukup rajin mengikuti pengajian. Tetapi, kebiasaan di Ploso belum dapat di­hilangkannya. Saat santri lain sibuk belajar, dia hanya tidur dan membiarkan kitabnya di atas meja, dan baru bangun bila pelajaran selesai. Meskipun demikian, bila sang guru mengajukan berbagai pertanyaan yang ber­kaitan dengan materi yang disampaikan ketika Gus Miek baru bangun tidur, Gus Miek selalu bisa men­jawab secara memuaskan.

Di antara keanehan Gus Miek saat nyantri di Lirboyo adalah meletakkan kitab-kitabnya di atas genting kamarnya, membiarkan terkena panas dan hujan. Dan, kalau dia sudah tidur, tak seorang pun bisa dan berani membangunkannya sampai ia terbangun.
Kamis, 17 Januari 2013

Gus Miek: Alfiyah, aku sudah hafal, Lha Kamu

Di madrasah, Gus Miek hanya sampai kelas per­tengahan Alfiyah. Kelas Alfiyah merupakan kelas hapalan yang terkenal rumit. Ada satu kisah menarik di sini. Beberapa hari sebelum ujian hapalan Alfiyah.

Gus Miek mengajak Khoirudin berjalan-jalan keliling kota.
“Gus, besok saatnya setoran hapalan Alfiyah, apakah kamu sudah siap?” tanya Khoirudin ketika dalam sebuah perjalanan.
“Aku sudah hapal. Lha kamu Mas Din?” Gus Miek balik bertanya.
“Aku juga hapal,” jawab Khoirudin berbohong.
“Sekarang bermain saja, Mas Din. Urusan besok gampang.”

Esok hari tiba. Saat setor hapalan dimulai, semua murid dipanggil satu per satu. Khoirudin mendapat giliran lebih dahulu. Khoirudin gugup bukan main karena dia belum hafal sampai seribu bait. 

Khoirudin melirik Gus Miek seolah menghendaki isyarat tertentu. Gus Miek menatapnya tajam dan bibirnya berkomat- kamit, meski tak kedengaran. 

Rabu, 16 Januari 2013

Kaliwungu Kota Santri



Kaliwungu selain terkenal akan kota santrinya, kota ini juga ramai diziarahi oleh orang dari berbagai daerah,  berikut beberapa Makam yang ramai diziarahi di kota Kaliwungu.

Sunan Katong

beliau menyebarkan Islam di Kendal bersama sahabatnya dari Demak yaitu Ten Koe Penjian Lien (Tekuk Penjian) Han Bie Yan (Gembyang) tokoh dari China keduanya masih kerabat Demak. Dalam menyiarkan agama Islam di Kendal Sunan Katong cukup sukses, dia juga mampu mengajak Pakuwaja masuk Islam walaupun dengan adutanding.

Kiai Haji Asyari

juga menyiarkan agama Islam di Kendal. Ada lagi tokoh Kaliwungu yang dikenal sebagai penyebar Islam pada masa sesudah Sunan Katong yaitu Pangeran Puger, Tumenggung Mandurarejo, KH. Asyari, KH. Mustofa, dan KH. Musyafa.

Selama ini orang hanya mengenal Sunan Katong dan Kiai Asyari sebagai wali dari Kaliwungu. Padahal terdapat pula wali yang tak kalah karomahnya dengan Sunan Katong yaitu Kiai Musyafa. Kiai (waliyullah) Musyafa' bin H. Bahram (almarhum) dimakamkan di bukit Protomulyo.

Selasa, 15 Januari 2013

kiai kok teledor, ya diragukan

Yang paling “unik” dan “menarik” dari tradisi keislaman di Banten adalah prinsip bahwa belajar (ngaji atau nyantri) selalu pantas bagi siapa saja, tak peduli dia adalah seorang kiai dengan ratusan santri. Inilah menurut hemat saya, warisan dari tradisi Banten yang paling menonjol, citra keislaman yang sangat kental yang perlu dijaga dan dilestarikan.

Dengan ngaji dan nyantri, atau mendatangi para ulama (meskipun seminggu satu kali), sesungguhnya seseorang telah membuang sifat takabbur dan masuk ke maqam tawadlu. Merasa “kurang” akan cabang- cabang keilmuan yang belum dikuasai, meskipun bagi seorang kiai yang punya santri, adalah sesuatu yang penting. Oleh karena itu, seseorang masih membutuh­kan adanya sosok yang mana—karena wirainya, zuhudnya dan “tabahhur” dalam keilmuannya—”kita” sangatlah patut mengagungkannya.

Kiai dan umat sangatlah butuh sosok yang fatwa-fatwanya patut didengar. Sosok yang bisa menjadi pengayom bagi wong cilik. Sosok yang diamnya adalah zikir dan kalamnya adalah ilmu. Maka, sosok seperti itu adalah benar-benar sosok seorang “Abuya”.

Kenapa tidak setiap kiai di Banten disebut “Abuya”? Jawabannya, sudah begitu terang, karena kiai pun masih butuh figur dan guru yang mumpuni. Artinya, yang dibutuhkan adalah “otoritas” dan “integritas ulama”. Apakah itu berarti MUI? Tidak! Kita kurang perlu dengan lembaga MUI, yang bisanya hanya memberikan lebel “halal-haram” pada produk-produk makanan. Kita kurang perlu dengan “ulama-ulama formal” seperti mereka yang berada di dalam lembaga itu. Sebaliknya, yang kita butuhkan adalah seorang ulama yang rasikhah sebuah kata lain dari ulama yang mengamalkan ilmu- nya (al-ulama al-'amilin) dan menghindari ilmu yang hanya berhenti di tingkat “wacana” dan “retorika”.

Tiga Tokoh Ulama Banten

TIGA KIAI YANG NAMANYA "HARUM"

Di Banten sebenarnya banyak kiai yang 'alim. Adapun alasan mengapa hanya tiga kiai yang akan selintas disinggung ihwalnya berikut ini adalah karena nama mereka banyak “menyita” perhatian masyarakat dan para santri. Ketiga kiai itu adalah: 

  • Abuya Dimyathi (Cidahu) 
  • Abuya Busthomi (Cisantri), 
  • Kiai Munfasir (Cihomas).

Sudah diketahui umum bila di Banten banyak sekali kiai. Akan tetapi, ketika nyantri di sana, saya hanya mendengar dua orang di antara kiai-kiai tersebut yang oleh masyarakat dipanggil dengan sebutan Abuya. Keduanya adalah Abuya Dimyathi dan Abuya Busthomi (sebelum dua “Abuya” ini, yang masyhur dengan sebutan Abuya adalah seorang ulama yang lebih menonjol dengan ilmu-ilmu alatnya, pemilik Sanad Alfiah Ibnu Malik dari “3 Kiai Kholil” yang juga terkenal karena memiliki banyak karomah. Dia adalah Abuya Sanca).

Tentang Abuya Dimyathi, biarlah kita bahas sendiri lebih rinci nanti. Sedangkan tentang Abuya Busthomi, dia adalah ulama yang kalamnya runtut, banyak memberikan “wejangan” sampai ke pelosok-pelosok kampung, dan menjadi sesepuh di Pesantren Cisantri. Di akhir hayatnya, dia lebih banyak istiqamah beribadah karena kesehatan yang tak memungkinkan untuk sibuk dalam aktivitas sosial.

Benarkah Banten Kota Jawara?


TRADISI KEISLAMAN: MASYARAKAT BANTEN, MADURA, DAN LOMBOK

Sebelum mengungkap sosok Mbah Dim, ada baik- nya kita sedikit menilik ihwal tradisi keislaman di Banten. Akan tetapi, karena di bumi persada ini se­tidaknya ada tiga masyarakat yang memiliki tradisi keislaman yang unik, yakni masyarakat Madura, Lombok, dan Banten sendiri, maka pertanyaan yang layak diajukan adalah: apakah perbedaan antara tradisi keislaman masyarakat Banten, Madura, dan Lombok?

Secara mudah, orang awam seperti saya ini tentu akan mengatakan bahwa ketiga masyarakat tersebut adalah masyarakat yang kukuh memegang syar'i. Hal ini adalah kesan yang umum. Bagaimana dalam ke­nyataan sesungguhnya, orang berhak untuk memper­tanyakannya.

Yang jelas, masyarakat Lombok adalah masyarakat yang gemar membikin masjid dan memperindahnya. Oleh karena itu, tak mengherankan jika dalam setiap jarak 100 meter berdiri megah sebuah masjid. Bahkan, tak jarang ada dua buah masjid yang hanya dipisahkan oleh jalan raya.

Selain itu, ada pula keunikan yang lain dari ma­syarakat Lombok. Dalam masyarakat lombok, ketika seorang lelaki hendak meminang, ia harus melalui sebuah perjuangan, yakni “mencuri” mempelai wanita. Barangkali, karena tradisi inilah, masyarakat Lombok dijuluki sebagai “masyarakat seribu masjid sejuta pencuri”.

Di luar itu semua, tentang “citra keislaman” dan tersebarnya syari’at, Lombok tak bisa melupakan jasa- jasa para ''alim, yang penduduk sekitar menyebutnya dengan panggilan akrab: “Sang Tuan Guru”.

KH Bisri Syansuri



Faqih yang Tegas nan Santun

Pertengahan Juni ini, Ponpes Mambaul Maarif Denanyar, Jombang memiliki hajat besar. Ribuan orang diperkirakan memadati lokasi pesatren untuk menghadiri agenda acara tahunan Haul ke-31 wafatnya KH Bisri Syansuri dan bersama-sama meneladani keteguhan prinsip dan kecintaannya kepada ilmu fiqih, Islam dan bangsa.

Pembicarakan kisah hidup Kiai Bisri berarti membicarakan kecintaan seorang ulama terhadap ilmu fiqih. Karena saking cintanya, Kiai Bisri dikenal sebagai ulama yang tegas memegang prinsip. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang juga cucunya sendiri, menyebut Kiai Bisri sebagai “Pecinta Fiqih Sepanjang Hayat” yang ter-muat sebagai judul buku yang ia tulis.
 
Ada kisah menarik yang termuat dalam buku Gus Dur. KH Abdul Wahab Chasbullah sering sekali berbeda pendapat dengan Kiai Bisri. Kiai Wahab, menurut Gus Dur, lahir sebagai anak kaya di Bibis, Kota Surabaya. Ibunya memiliki ratusan rumah di daerah tersebut yang disewa oleh orang-orang Arab pada paruh kedua abad ke-19 Masehi. 

Orang tua itu, ternyata Kyai



KH. Abdul Karim, Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo


Pertama kali menetap di Desa Lirboyo, ia langsung melantunkan adzan. Aneh, selepas itu, semalaman penduduk desa tak bisa tidur karena perpindahan makhluk halus yang lari tunggang langgang.

Nama kiai ini KH Abdul Karim. Ia adalah pendatang dari Magelang yang kemudian diambil menantu Kiai Sholeh, Banjarmelati Kediri.

Perpindahan Kiai Karim ke desa Lirboyo dilatarbelakangi atas dorongan dari mertuanya sendiri yang berharap dengan menetapnya Kiai Karim di Lirboyo akan menjadi tonggak penting syiar Islam di daerah itu.

Gayung bersambut, kepala desa Lirboyo juga memohon kepada Kiai Sholeh agar berkenan menempatkan salah satu menantunya di desa Lirboyo.

Dengan hal ini diharapkan Lirboyo yang semula angker dan rawan kejahatan menjadi sebuah desa yang aman dan tentram.

Benar, selepas Kiai Karim melantunkan adzan, Desa Lirboyo bebas dedemit. Dan, tiga puluh lima hari setelah menempati tanah tersebut, Kiai Karim mendirikan surau mungil nan sederhana. Peristiwa bersejarah ini terjadi pada 1910.

Secara garis besar Kiai Karim adalah pribadi yang sangat sederhana dan bersahaja. Ia juga gemar mela-kukan riyadlah mengolah jiwa alias tirakat.

Senin, 14 Januari 2013

KH Ahmad Abdul Haq Watucongol Muntilan Magelang

Mbah Mad adalah salah seorang kiai yang cukup disegani banyak kalangan lintas golongan, para ulama dan pejabat. Sejak kecil, ia dikenal memiliki ilmu yang tidak dimiliki para kiai pada umumnya.
Salah seorang putra (alm) KH Ahmad Abdul Haq Dalhar (Mbah Mad), KH Agus Aly Qayshar, menceritakan, bahwa salah satu kelebihan Mbah Mad yang dimiliki sejak kecil adalah mengetahui makam para wali yang sebelumnya tidak diketahui oleh masyarakat sekitar. Yang pada awalnya, makam seseorang itu dianggap biasa oleh masyarakat, justru Mbah Mad memberi tahu kalau itu makam seorang wali. Kelebihan ini merupakan warisan dari abahnya, Mbah Dalhar.

Mbah Mad adalah seorang ulama yang cukup berpengaruh, terutama di wilayah Magelang. Di mata para kiai dan umatnya, kharisma Mbah Mad sangat tinggi, di samping karena salah seorang kiai sepuh di kalangan warga NU saat itu.

Sebelum wafat, ia menjadi pengasuh keempat Pondok Pesantren Darussalam Watucongol, Gunungpring, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Pesantren ini didirikan oleh kakek buyutnya yakni Kiai Abdurrauf bin Hasan Tuqa, pada tahun 1820. Pesantren ini juga pernah ditempati Muktamar NU ke-14, pada tahun 1939.

Mereka itu Jin, Yai ...

Mbah Ma’shum dan Santri Jin

Ada kisah menarik yang terjadi saat KH Ma’shum Ahmad, ayahanda KH Ali Ma’shum, saat bersilaturrahim ke seorang Kiai di Lombok. 

Menjelang waktu maghrib Kiai asal Lasem itu sampai di sana. Saat dijamu oleh tuan rumah, Mbah Ma’shum mengetahui betapa ramainya pesantren sang Kiai. 

Hiruk-pikuk para santri yang melakukan aktifitasnya sangat tampak. Segenap santri terlihat mengaji dan berdzikir. “Alhamdulillah, pesantren Tuan sudah maju. Santrinya banyak. Semoga mereka bisa jadi pemimpin kaumnya,” kata Mbah Ma’shum. Setelah mengamini doa temannya, tuan rumah hanya tersenyum penuh arti.

Akan tetapi, keesokan harinya, tiba-tiba saja pesantren itu mendadak sepi, tak seorang pun santri yang terlihat berlalu lalang, dan di tempat itu hanya ada sang kiai saja, yang bersama keluarga rumahnya berada di tengah-tengah pelataran pesantren. 


Dia bertanya kepada sang tuan rumah, kemana gerangan para santrinya.
Minggu, 13 Januari 2013

MENGENANG SALAH SATU SOSOK ULAMA KHARISMATIK KOTA KALIWUNGU KABUPATEN KENDAL TEMPO DULU

MENGENANG SALAH SATU SOSOK ULAMA KHARISMATIK KOTA KALIWUNGU KABUPATEN KENDAL TEMPO DULU


Tidak lengkap rasanya mengulas tentang kota santri di Kaliwungu tanpa membicarakan para Ulama dan para Kyai-nya.


KH.Mahfudz sarbini yang biasa dipanggil dengan Mbah kaji merupakan salah satu sosok Ulama kaliwungu yang memiliki karismatik, beliau lahir sekitar tahun 1920 anak pasangan dari H.sarbini dan Hj.Romlah.beliau dijuluki oleh para ulama disekitar kaliwungu sebagai bapaknya alqur’an,karna sejak sebelum nikah sudah menjadi imam tarawih dimasjid al mutaqqin Kaliwungu kendal bersama KH.Asror ridwan,KH Mahfudz madian, Kyai Nasikhin, dan KH.Toha(es). Sejak kecil Beliau sudah menampakan kecerdasannya dan keshalihannya, pada umur 12 th beliau sudah rampung disimak 30jus bil ghoib secara langsung oleh gurunya yang bernama KH .A.Badawi Abdurrosyid yang merupakan guru besar tahafudzul qur’an sekota kaliwungu.


Mbah kaji sosok ulama yang cukup sempurna dalam menjalankan perintah agama, beliau bukan saja mengajarkan alqur’an, namun juga dalam menjalankan kehidupanya,alqur’an seakan-akan sudah menjadi bagian dari dirinya. Maka wajar jika dalam perilaku sehari-hari beliau penuh tawadhu’,istiqomah ,zuhud dan ikhlas. Banyak dari beberapa pihak maupun para santri beliau yang coba untuk mempublikasikan kegiatannya selalu di tolak dengan halus oleh Mbah Kaji.


Banyak yang pernah menjadi murid beliau yang sekarang menjadi ulama-ulama ternama dikota kaliwungu seperti KH.Aqib umar,KH.Nujumudin badawi, KH. Munawirudin badawi, KH. Baduhun badawi,dan masih banyak lagi murid beliau yang menjadi ulama-ulama besar disekitar kota kaliwungu bahkan sampai ada diluar jawa.


Masa kecil Mbah Kaji dihabiskan di kampung kelahirannya; Krajan kulon Kaliwungu. Awal menuntut ilmu, beliau menghafalkan alqur’an,yang langsung didik oleh KH.A.Badawi.pernah mengaji tafsir dengan kyai Ibrahim,ilmu falaknya dengan Kyai Ahmad Hamim dan dengan ulama-ulama lainya disekitar kaliwungu, Lalu sempat melanjutkan berkelana menuntut ilmu agama didaerah solo,namun karna pada waktu itu sedang terjadi kekisruhan didaerah tempatnya mondok beliaupun akhirnya pulang kedaerah asalnya

Kata nara sumber, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna.


Pernah ada suatu kisah yang amat mencengangkan dari beliau sewaktu pertama kali mondok dipesantren daerah solo, ketika beliau disuruh untuk diantarkan santri kekamarnya, ternyata malah santri tersebut mengantarknya ke tempat pembuangan air besar atau wc, beliaupun didalam dikunci selama 2 hari, tidak makan ataupun minum, bahkan santri tersebut malah tambah ingin mengerjainya, tapi ketika santri tersebut datang ke wc, malah seakan-akan yang diliatnya mbah kaji sedang makan- minum ditemani oleh kyainya bahkan disitu kyainya sedang belajar alqur’an dengan beliau, santri inipun kaget dan langsung pingsan ditempat, ketika sadar santri tersebut sudah berada dikamarnya dan dikerubuti oleh para santri yang lain.

Setelah itu sisantri tersebut mencritkan kepada kyainya, namun kyainya langsung kaget dan berlari menuju ke wc tersebut, dan dibukalah pintu ternyata mbah kaji sedang tidur dengan keadan lisan bersuarak ayat-ayat suci alqur’an,subhanallah..

Tak lama kemudian mbah kajipun dibangunkan oleh kyainya seraya dipeluk dan diajak ke kamar kyainya,,,kemudian iapun ditanya dan menjawab bahwa ketika beliau dikunci dikamar mandi beliau langsung tak sadarkan dri karna terlalu kecapekan karna perjalan jauh.akhirnya mulai itula beliau dikenal dan disegani dikalangan pondok pesantren tersebut.


Wallahu a’lam. Ada banyak cerita tak masuk akal yang menyangkut dirinya, namun kadar ”gula-gula” tidaklah terasa sebab penitikberatan segala kisah perjuangan mbah kaji lebih diambil dari orang-orang yang menjadi saksi hidupnya (kebanyakan dari mereka masih hidup) dan dituturkan apa adanya. Almrhum mbah kaji memang sudah masyhur wira’inya. Di waktu ia kecil,ia sudah terbiasa tirakat, tidak pernah terlihat tidur dan istimewanya adalah menu makanya yang hanya sekedar. Beliau selalu menghabiskan waktu untuk menimba ilmu, baik dengan mengaji, mengajar atau mutola’ah. Sampai sudah tuapun, mbah kaji masih menjalankan keistiqamahannya itu dan tidak dikurangi bahkan ditambah.

.

Tanggal 27 rajab tahun 1993 tepatnya pada hari ahad sore hari KH.Mahfudz dipanggil oleh Alloh SWt keharibaannya.di RS.Soewondo Kendal.narasumber mengatakan sewaktu beliau sakit dan hampir menjelang ajal beliau sering merintih, namun anehnya rintihan itu tak slayaknya seperti rintihan orang keskitan karna ternyata suara yang dianggapan rintihan tersebut ternyata adalah suara ayat-ayat suci alqur’an. fakbut rabaka hatta yaktiyakal yaqin merupan pesan terakhir yang terdengar dari mulutnya seblum meninggal dunia, Kaliwungu telah kehilangan sosok ulama yang karismatik dan tawadhu’yang menjadi tumpuan berbagai kalangan masyarakat untuk dimintai nasihatnya bukan hanya dari masyarakat kaliwungu saja saja tapi juga umat islam pada umumnya.Beliau di maqomkan tak jauh dari rumahnya tepatnya daerah kampung tridasari. .


Atas meninggalnya ulama krismatik di Desa Krajan Kulon,Kaliwungu Kendal KH .Mahfudz Sarbini, hari ahad sedikit banyak umat Islam sangat kehilangan. Ulama besar yang jadi tumpuan berbagai kalangan masyarakat untuk dimintai nasihatnya bukan saja masyarakat kaliwungu yang kehilangan, namun umat Islam disekitarnya pada umumnya.

sumber :majalah alkisah
http://www.facebook.com/SYAFAAH.dan.BAROKAH
Jumat, 11 Januari 2013

Mbah Mangli: ora sah pencak-pencak-an

Ora sah pencak-pencak-an

Oleh: Masruchan

Pernah suatu ketika saya tidak berangkat pengajian, karena dimasjid ada kegiatan untuk pemuda, yaitu pencak silat. 

Bapak dan ibu saya berangkat pengajian. Sepulang pengajian, bapak bilang, kalau dipengajian mbah Mangli pesan, “ora sah pencak-pencak-an,karate-karatenan, sing penting sholat, Gusti Allah mesti lindungi. Nek gusti Allah wis lindungi, ora bakal enek sing iso gawe ciloko” (tidak usah pencak atao karate, yang penting sholat, Allah pasti melindungi, kalau Allah sudah melindungi, tidak mungkin ada yang bisa buat celaka) kurang lebihnya demikian.

Mbah Mangli, mengetahui tamu-tamunya. berasal dari mana dan dari kalangan apa. kalau pengajian tidak pernah menggunakan pengeras suara. 

Tiap pengajian jamaahnya penuh dan berjejal-jejal. Bahkan untuk shalat berjamaah, rukuk dan sujud harus berada diatas punggung orang lain. 

Mbah Mangli: Karomah

Mbah Mangli Bukanlah nama asli, melainkan sebutan bagi Kiai Hasan dari Desa Mangli Kecamatan Secang Kabupaten Magelang.

Mbah Mangli dikenal sebagai seorang kiai yang memiliki banyak karomah. Semasa hidupnya, kiai sederhana yang bersahaja namun konon memiliki banyak usaha dan dikenal kaya raya ini senantiasa menggunakan hari-harinya untuk kepentingan agama.

Mbah Mangli di hari-hari tertentu sering mengisi pengajian. Majlis pengajiannya selalu dihadiri oleh banyak jamaah yang datang dari berbagai daerah, yakni dari Magelang, Temanggung, Wonosobo, Ungaran, Semarang, Yogyakarta, Kendal, Batang, Peka­longan, Pemalang, Tegal, Demak, dan bahkan dari Jawa Timur dan Jawa Barat Mereka datang ke masjid di Secang tempat sang kiai berceramah mengisi pengajian.

SekaJipun bukan seorang pengasuh pondok pe­santren namun Mbah Mangli adalah figur seorang kiai zuhud yang memiliki Ilmu Linuwih seperti weruh Sadurunge winarah selayaknya seorang kiai yang dikenal sebagai waliyullah, Keanehan sang kiai yang khawariqul adat ini seakan menjadi cerita yang tiada habisnya. Setiap orang memiliki cerita berbeda perihal karomah sang kiai ini.

Diperoleh keterangan bahwa jika Mbah Mangli mengisi pengajian di tempat pengajiannya, baik di Desa Mangli maupun di Secang, dia selain bicara tanpa menggunakan pengeras suara, Padahal pengunjung yang mengikuti pengajian sangat banyak, mereka rela berdesak-desakan demi mendengarkan ceramah sang kiai.

Namun anehnya, meskipun sang kiai tidak menggunakan speaker dan meskipun jamaah men­dengarkan dari tempat yang cukup jauh dari Mbah Mangli berceramah mereka tetap mendengar suara kiai dengan jelas. Dan itu diketahui secara umum oleh para hadirin yang dengan setia mendengarkan ceramah Mbah Mangli.

Mbah Mangli: nak maman meninggalkan isteri di yogya sendirian?



Pengalaman Tak Terlupakan di rumah Mbah Mangli

Oleh: Maman Kusmana

Kisah ini sudah diringkas seperlunya. Pada tahun 1980-an, ketika usia saya masih 20-n, selesai menghadiri pengajian Mbah pada hari Ahad, setelah sholat dzuhur semua jamaah membuat pagar manusia dikiri kanan memeberikan kesempatan kepada Mbah untuk menuju rumah beliau (jarak dari rumah ke masjid lebih kurang 50 m.

Para santri mengumumkan di masjid berkali-kali: “ketika Mbah menuju rumah jangan ada yg cium tangan Mbah”. Tapi tetap saja semua orang berusaha menyalami beliau, tapi beliau jalan terus sambil meletakan tangan beliau sambil bersedakep (meletakan kedua tangan diatas pusar ketika sholat) dan menghindar untuk dicium tangan. Tapi Mbah kadang-kadang mengulurkan juga tangannya kepada siapa saja yg Mbah kehendaki.

Beberapa kyai telah diterima Mbah untuk masuk ke dalam rumah beliau. Kemudian saya memberanikan diri minta ijin kepada santri-santri yang menjaga pintu rumah beliau untuk bertamu.

Mereka bertanya, saya berasal dari mana dan ada kepentingan apa. Mereka tidak mengijinkan saya untuk masuk. Apalagi saya berpakaian biasa saja tidak seperti pakaian ulama. Saya menjawab, saya dari Cempaka Putih Jakarta, ketika itulah tiba-tiba terdengar oleh saya suara dari dalam: “kalau yang itu boleh masuk”. Sungguh terperanjat mendengar suara itu.
Kamis, 10 Januari 2013

KH. Abdullah Schal Bangkalan



Beliau adalah salah satu ulama kebanggan masyarakat Bangkalan yang andhap ashor atau tawadhu, Dulu ketika terjadi kerusuhan dan musibah yang mengandung unsur SARA di suatu daerah di kalimantan, beliau adalah kiai yang kata-katanya didengar oleh masy.bangkalan pada khususnya dan madura pada umumnya, beliau juga yang menenangkan sebagian kecil masyarakat Madura yang hendak melakukan pembalasan dendam beliau dengan bijak menyuruh untuk tidak melakukan balas demdam tsb, karena sungguh akan merusak persatuan dan kesatuan Bangsa, merugikan kedua-belah pihak dan menyerahkannya semua nya kepada Allah tuhan semesta alam dan untuk tidak main hakim sendiri,

TS pribadi mendapatkan amalan yang diijazahkan oleh beliau hizib alquran untuk menunaikan hajat2 penting , dengan bertawassul memakai amal sholeh dengan menghatamkan alquran dalam jangka waktu selama 6 hari.

Ts juga sangat senang dengan ceramahnya karena beliau termasuk orang alim terutama dalam masalah fiqh dan tasawuf. KH Abdul Karimselama masa mudanya pernah mondok disidogiri pasuruan dimana tempat kakek buyutnya (mbah yai kholil) pernah mondok. Selama mondok tersebut beliau pernah muthala’ah kitab kuning sampai 3 hari 3 malam karena saking merasa asyiknya dan hanya istirahat jika waktu sholat saja.

Kecintaan beliau terhadap ilmu agama dan pondok sidogiri sebagai tempat beliau menuntut ilmu bisa dilihat dari kejadian berikut, beliau mempunyaai seorang puteri yang dimondokkan di banat puteri ponpes sidogiri pasuruan, suatu ketika putri beliau sakit dan merasa tidak betah dan kemudian pulang ke ponpes demangan barat bangkalan.

2 (Dua) Tokoh Terkemuka Bangkalan Madura




KH. Abdullah Schal Bangkalan (1)

 KH. Abdullah Schal Bangkalan (2)
 Download




 KH. Abdullah Schal Bangkalan (3)
 Download

 KH. Abdullah Schal Bangkalan (4)
 Download




KH. Abdullah Schal Bangkalan (5)
 Download

 KH. Kholilurrahman (Ra Lilur)
Download

Info Pengajian

Search

Memuat...

Auliyaillah Tanah Jawa

Kunjungi Juga:

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Disclaimer

Beberapa artikel adalah hasil share dari web lain.
Claim email ke: ponpesalitqon@gmail.com
_______________________________
Beberapa isi buku yang kami share, sebatas yang dipublikasikan pada books.google.co.id
Terimakasih

Google+ Followers